Faktual.news – Nilai tukar rupiah menunjukkan performa positif pada penutupan perdagangan Selasa (13/10) sore. Mata uang kebanggaan Indonesia ini berhasil menguat ke level Rp17.900 per dolar AS. Jika dibandingkan dengan sesi perdagangan sebelumnya, mata uang Garuda mencatatkan kenaikan sebesar 13 poin atau setara dengan penguatan 0,07 persen.
Kenaikan tipis ini terjadi di tengah kondisi pasar global yang sedang mengalami fluktuasi. Meskipun rupiah menunjukkan tren positif, pergerakan mata uang di kawasan Asia secara keseluruhan tampak bervariasi terhadap dolar AS. Sebagian besar mata uang tetangga justru mengalami tekanan dan melemah.

Sebagai contoh, yuan China tercatat turun tipis 0,01 persen, sementara peso Filipina melemah sebesar 0,06 persen. Ringgit Malaysia juga tidak luput dari depresiasi dengan penurunan sebesar 0,03 persen. Bahkan, won Korea Selatan mengalami tekanan yang cukup signifikan dengan penurunan mencapai 0,56 persen terhadap dolar AS.
Namun, tidak semua mata uang di Asia melemah. Yen Jepang justru menunjukkan taringnya dengan penguatan sebesar 0,33 persen. Selain itu, dolar Singapura juga mengalami kenaikan tipis sebesar 0,05 persen, sementara dolar Hong Kong terpantau bergerak stagnan tanpa perubahan yang berarti terhadap dolar AS.
Kondisi serupa juga terlihat pada mata uang negara-negara maju. Mayoritas mata uang utama dunia kompak menguat terhadap dolar AS. Euro Eropa mencatatkan kenaikan 0,29 persen, diikuti oleh poundsterling Inggris yang menguat 0,22 persen. Dolar Australia dan dolar Kanada masing-masing naik sebesar 0,14 persen dan 0,15 persen, sementara franc Swiss juga naik 0,19 persen.
Menanggapi pergerakan ini, analis mata uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, memberikan pandangannya. Menurutnya, penguatan rupiah dipicu oleh berkurangnya tekanan jual pada obligasi pemerintah di pasar global serta melemahnya posisi dolar AS secara umum.
"Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS di tengah meredanya tekanan jual pada obligasi pemerintah global dan pelemahan dolar AS itu sendiri," jelas Lukman saat memberikan keterangan kepada faktual.news.
Selain faktor obligasi dan dolar, faktor komoditas juga turut memberikan pengaruh pada pasar. Harga minyak mentah dunia dilaporkan mengalami penurunan. Penurunan ini diduga kuat sebagai dampak dari aksi ambil untung (profit taking) oleh para pelaku pasar menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pada Rabu (14/10).
Meski demikian, Lukman memberikan catatan bahwa penguatan rupiah tidaklah terlalu agresif. Hal ini disebabkan oleh adanya sentimen risk-off atau kecenderungan investor untuk menghindari risiko, baik di pasar domestik maupun pasar global. Sentimen tersebut menjadi faktor utama yang membatasi ruang gerak penguatan rupiah agar tidak melesat lebih jauh.


