Faktual.news – Badan Gizi Nasional (BGN) tengah menyiapkan langkah besar dalam transformasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Alih-alih hanya sekadar membagikan kotak makanan, pemerintah kini tengah menguji coba sistem penyajian prasmanan yang diharapkan dapat membawa perubahan signifikan pada pola makan dan karakter siswa di sekolah-sekolah.
Kepala BGN, Sudaryono, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan uji coba intensif terhadap sistem prasmanan tersebut di 62 Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) atau dapur umum yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Lokasi uji coba ini mencakup area yang cukup luas, mulai dari Merauke di ujung timur, Pulau Madura, Pulau Jawa, hingga wilayah Riau.

Jika hasil evaluasi menunjukkan hasil yang positif dan tidak ditemukan kendala teknis yang berarti, BGN optimis dapat memperluas skala program ini secara masif. Targetnya, pada akhir tahun ini, setidaknya ada 1.000 hingga 5.000 SPPG yang sudah siap menerapkan sistem prasmanan bagi para siswa. Bahkan, dalam jangka panjang, target tersebut diproyeksikan terus meningkat hingga mencapai 5.000 unit dapur pada akhir tahun 2026.
Sudaryono menjelaskan bahwa ada tiga alasan fundamental mengapa sistem prasmanan ini dianggap jauh lebih unggul dibandingkan sistem nasi kotak konvensional. Faktor pertama adalah efisiensi konsumsi. Dengan sistem prasmanan, makanan dapat disajikan dalam kondisi yang tetap hangat, sehingga kualitas kesegaran dan cita rasa hidangan tetap terjaga saat dinikmati oleh anak-anak di sekolah.
Faktor kedua berkaitan dengan aspek edukasi karakter. Sistem ini dirancang untuk melibatkan siswa secara aktif dalam rutinitas makan siang mereka. "Pelibatan siswa bukan sekadar menjadikan mereka pihak yang dilayani secara cuma-cuma. Ada proses belajar di sana; ada siswa yang belajar mengantre dengan tertib, ada yang belajar bersabar, bahkan ada yang dilibatkan dalam sistem piket untuk membantu pelayanan," ujar Sudaryono saat meninjau langsung pelaksanaan program di SD Cot Meuraja, Aceh Besar.
Menurutnya, metode ini merupakan bagian dari pendidikan karakter yang sudah lazim diterapkan di negara-negara maju. Melalui prasmanan, siswa diajarkan tentang disiplin, kemandirian, dan etika saat makan.
Meski memiliki target yang ambisius, BGN menyadari bahwa tantangan besar menanti, terutama terkait kesiapan infrastruktur dapur dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) di sekolah. Oleh karena itu, implementasi tidak akan dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia, melainkan melalui pendekatan bertahap.
"Kami akan memprioritaskan dapur dan sekolah yang sudah memiliki kesiapan infrastruktur serta SDM yang mumpuni. Kami ingin menunjukkan bukti nyata dari sistem yang baik ini, sehingga sekolah-sekolah lain dapat melihat keberhasilannya dan terinspirasi untuk mengikuti praktik yang sudah teruji tersebut," pungkasnya.


