Faktual.news – Pemerintah Indonesia melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan sinyal kuat mengenai peluang besar ekspor listrik ke negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Namun, langkah strategis ini tidak akan dilakukan secara sembarangan. Bahlil menegaskan bahwa kedaulatan ekonomi harus tetap menjadi panglima, terutama dalam hal penentuan harga jual energi ke luar negeri.
Dalam keterangannya di ajang Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Bahlil menyatakan bahwa Indonesia pada dasarnya sangat terbuka untuk menjalin kerja sama energi lintas negara. Menurutnya, ekspor listrik dapat menjadi peluang keuntungan bagi negara, asalkan Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat. Ia menekankan bahwa kendali atas harga harus berada di tangan pemerintah Indonesia, bukan ditentukan oleh negara pembeli.

"Saya pikir, boleh kita ekspor, yang penting harganya kita tentukan," tegas Bahlil dengan nada lugas. Ia mengibaratkan posisi Indonesia harus seperti penjual yang memegang kendali penuh atas nilai barangnya, sehingga tidak ada pihak yang bisa mendikte atau menekan kepentingan nasional.
Bahlil menjelaskan bahwa selama ini proses negosiasi terkait rencana ekspor listrik tersebut memang berjalan cukup alot. Hal ini disebabkan oleh keinginan Indonesia untuk memastikan bahwa kerja sama yang dijalin bersifat saling menguntungkan (win-win solution), bukan justru menjadi ajang saling menekan antarnegara. Ia tidak ingin Indonesia hanya menjadi penyedia energi yang bisa ditekan harganya oleh negara lain.
Lebih lanjut, Bahlil yang juga menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi ini mengingatkan bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia tetap menjunjung tinggi prinsip politik luar negeri bebas aktif. Indonesia ingin berteman dengan siapa saja dan siap membantu negara tetangga melalui penyediaan energi, namun kerja sama tersebut harus didasari oleh etika dan rasa saling menghargai.
Dengan gaya bicara yang khas, Bahlil memberikan peringatan keras kepada negara-negara yang mencoba melakukan praktik negosiasi yang tidak sehat. Ia meminta agar negara tetangga tetap mengedepankan adat ketimuran dalam bernegosiasi, mengingat hubungan antarnegara di kawasan ini seharusnya didasari oleh semangat kekeluargaan.
"Saya tahu kalian punya cara-cara main itu. Saya tahu kalian. Saya sebagai orang timur sangat menghargai hubungan kekeluargaan, tapi jangan membuat ketersinggungan sesama keluarga. Itu dampaknya akan kurang bagus," pungkasnya. Pesan ini menjadi sinyal bahwa Indonesia tidak akan berkompromi jika menyangkut kepentingan sumber daya alam yang menjadi aset vital bangsa.


