Faktual.news – Isu mengenai penggabungan atau merger antarperusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus menjadi sorotan publik. Salah satu spekulasi yang sempat beredar adalah rencana penyatuan antara PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo dengan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni). Namun, kabar tersebut kini telah mendapat jawaban tegas dari pihak otoritas terkait.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, memberikan klarifikasi resmi bahwa tidak ada rencana untuk melakukan merger terhadap kedua raksasa negara tersebut. Meskipun keduanya sama-sama memiliki wilayah operasional di sektor perairan, Dony menegaskan bahwa kedua entitas ini berdiri di atas landasan bisnis yang sangat berbeda.

Menurut Dony, perbedaan fundamental terletak pada model bisnis yang dijalankan. Pelindo memiliki fokus utama pada industri pengelolaan pelabuhan (port industry), sementara Pelni bergerak sepenuhnya di sektor transportasi pelayaran. Perbedaan peran ini membuat keduanya tidak dapat disatukan dalam satu payung manajemen yang sama.
"Pelindo itu industrinya pengelolaan pelabuhan, sedangkan yang satu lagi industrinya adalah pelayaran. Jadi tidak bisa, tidak nyambung. Walaupun sama-sama beroperasi di laut, bukan berarti mereka harus dimerger. Pelni dan Pelindo dipastikan tidak akan digabung," ujar Dony saat memberikan keterangan di Jakarta, Kamis (8/10).
Lebih lanjut, Dony menjelaskan bahwa saat ini kedua perusahaan tersebut telah memiliki tata kelola yang mapan. Masing-masing telah menerapkan praktik terbaik (best practice) di sektornya, sehingga penggabungan justru dikhawatirkan tidak akan memberikan nilai tambah yang signifikan bagi efisiensi operasional.
Terkait dengan agenda besar pemerintah dalam melakukan perampingan BUMN, Dony memaparkan bahwa strategi Danantara sangat selektif. Proses konsolidasi atau merger hanya akan dilakukan pada perusahaan-perusahaan negara yang memiliki model bisnis atau sektor industri yang identik atau serupa. Tujuannya adalah untuk menciptakan sinergi yang kuat dan menghindari tumpang tindih fungsi.
Sebagai gambaran, Danantara tengah memetakan rencana konsolidasi pada sektor-sektor tertentu, seperti industri asuransi, manajemen aset, hingga pengelola kawasan industri. Dengan menggabungkan entitas yang sejenis, diharapkan perusahaan dapat bekerja lebih efisien dan memiliki daya saing yang lebih tinggi di pasar global.
Dony optimistis bahwa langkah perampingan yang terukur ini akan membawa dampak positif jangka panjang bagi perekonomian nasional. "Yang memiliki kesamaan sektor itulah yang kita lakukan merger agar lebih efisien. Nantinya, hal ini akan membuka banyak lapangan pekerjaan baru yang berkualitas. Semua pihak, terutama generasi muda, yang akan merasakan manfaat dari penguatan struktur BUMN ini," pungkasnya.


