Faktual.news – Kondisi pasar pangan di ibu kota kembali menunjukkan tren yang mengkhawatirkan bagi kantong konsumen. Pasca perayaan Iduladha, harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional di Jakarta terpantau mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Lonjakan ini membuat para ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner harus memutar otak untuk menyesuaikan anggaran belanja mereka.
Pantauan di lapangan, salah satunya di Pasar Warung Buncit, Jakarta Selatan, menunjukkan adanya perbedaan harga berdasarkan kualitas daging. Untuk jenis daging sapi kualitas super, pedagang mematok harga mencapai Rp150.000 per kilogram. Sementara itu, untuk daging sapi kualitas biasa, harga yang ditawarkan berada di kisaran Rp145.000 per kilogram.

Syafrudin, salah seorang pedagang daging di pasar tersebut, mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini terjadi secara mendadak. Sebelum momen Hari Raya Kurban, harga daging sapi kualitas biasa masih berada di angka Rp125.000 per kilogram. Artinya, terjadi selisih kenaikan sekitar Rp20.000 per kilogram dalam waktu yang relatif singkat.
"Kenaikannya tidak bertahap, tapi langsung melonjak setelah Iduladha. Sebelumnya kami jual Rp125 ribu, sekarang sudah di angka Rp145 ribu," ujar Syafrudin saat memberikan keterangan kepada media, Kamis (1/10).
Menurut penuturan Syafrudin, ada dua faktor utama yang memicu ketidakstabilan harga ini. Pertama adalah keterbatasan stok sapi yang tersedia di pasaran. Kedua, adanya pembengkakan biaya logistik atau pengiriman yang membuat harga di tingkat pedagang ikut terkerek naik. Meskipun stok daging sebenarnya masih tersedia di pasar, para pedagang cenderung membatasi jumlah pembelian stok karena tingginya modal yang harus dikeluarkan.
Kondisi ini menciptakan dilema bagi para pedagang. Di satu sisi, jumlah pembeli yang datang ke pasar sebenarnya masih tergolong normal. Namun di sisi lain, omzet atau pendapatan harian mereka justru mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh margin keuntungan yang menipis akibat tingginya biaya modal untuk menyetok daging.
"Pembeli tetap ada dan jumlahnya normal, tapi omzet kami jadi rendah. Pendapatan berkurang drastis karena modal yang harus dikeluarkan untuk belanja stok sangat tinggi," tambahnya.
Menghadapi situasi ini, para pedagang mengaku mulai sering menghadapi konsumen yang melakukan tawar-menawar dengan lebih alot. Untuk menjaga loyalitas pelanggan, pedagang biasanya hanya memberikan potongan harga atau diskon khusus bagi pembeli yang mengambil daging dalam jumlah besar atau grosir.
Kondisi serupa juga dirasakan oleh pedagang daging di lokasi lain di sekitar Jakarta. Secara umum, kenaikan harga rata-rata berada di angka Rp20.000 per kilogram dibandingkan periode sebelum Iduladha.
Sementara itu, jika merujuk pada data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) per 1 Oktober, terdapat sedikit fluktuasi pada harga rata-rata nasional. Daging sapi kualitas I tercatat berada di angka Rp148.400 per kg, mengalami penurunan tipis sekitar 2,66 persen dari hari sebelumnya. Sedangkan daging sapi kualitas II berada di angka Rp142.050 per kg. Meski data nasional menunjukkan sedikit penurunan, kenyataan di pasar tradisional menunjukkan harga masih tetap tinggi dan belum kembali ke level normal sebelum hari raya.


