Faktual.news – Pasar energi global kembali diguncang oleh fluktuasi harga minyak mentah yang melonjak tajam. Pada perdagangan Rabu (30/9), harga minyak dunia menunjukkan tren penguatan yang signifikan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan pernyataan tegas terkait kebijakan sanksi terhadap Iran. Langkah ini secara langsung memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar mengenai stabilitas pasokan energi global.
Berdasarkan data pasar terbaru, harga minyak mentah jenis Brent mengalami kenaikan sebesar US$1,14 atau setara dengan 1,11 persen, sehingga menyentuh level US$103,73 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi acuan Amerika Serikat juga tidak ketinggalan, menguat 34 sen atau 0,38 persen ke posisi US$89,72 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah sebelumnya harga sempat mengalami koreksi hingga 2,5 persen ke kisaran US$102 per barel akibat adanya harapan pemulihan pasokan dari Timur Tengah.

Lonjakan harga ini tidak lepas dari ketegangan geopolitik yang belum mereda. Donald Trump secara terbuka membantah rumor yang menyebutkan bahwa pemerintahannya bersedia melonggarkan sanksi ekonomi terhadap Iran. Melalui platform media sosial Truth Social, Trump menegaskan bahwa tidak ada tawaran atau konsesi apa pun yang diberikan kepada pihak Tehran, meskipun ada desakan diplomasi dari berbagai pihak. Bantahan keras ini mematahkan harapan pasar akan adanya pelonggaran sanksi yang selama ini dianggap sebagai kunci untuk menurunkan harga minyak.
Di sisi lain, dinamika pasar juga dipengaruhi oleh kebijakan domestik Amerika Serikat terkait ekspor diesel. Terdapat kekhawatiran bahwa rencana pembatasan ekspor diesel dapat menyebabkan penumpukan pasokan di pasar domestik AS, yang pada gilirannya akan menurunkan minat kilang-kilang minyak di sana untuk memproses minyak mentah. Sebagai langkah mitigasi, Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi izin penjualan red-dyed diesel guna menekan beban harga di tingkat konsumen menjelang pemilu November mendatang.
Secara teknis, Brent mencatatkan performa bulanan yang impresif dengan lonjakan mencapai 14 persen, angka tertinggi sejak Juli lalu. WTI juga menunjukkan tren positif dengan target kenaikan bulanan sekitar 4 persen. Menariknya, selisih harga antara Brent dan WTI kini melebar ke titik terluas dalam empat bulan terakhir, sebuah indikator yang menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar global.
Meskipun upaya diplomasi terus dilakukan oleh Qatar untuk menjembatani komunikasi antara Amerika Serikat dan Iran, situasi di lapangan tetap dianggap sangat volatil. Saul Kavonic, Head of Energy Research di MST Marquee, menyebutkan bahwa meskipun ada tanda-tanda pemulihan lalu lintas pasokan melalui Selat Hormuz, kendala logistik pengiriman minyak yang mahal dan terbatas tetap menjadi ancaman nyata bagi stabilitas harga.
Dari sisi pasokan, Arab Saudi dilaporkan telah mengoperasikan kembali pipa East-West dan melanjutkan aktivitas pemuatan tanker di pelabuhan Yanbu. Data dari Kpler menunjukkan bahwa ekspor minyak mentah dari produsen Timur Tengah pada bulan September melonjak hingga 16,328 juta barel per hari, sebuah rekor tertinggi sejak konflik AS-Israel dengan Iran pecah pada Februari lalu. Namun, data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan adanya kenaikan stok minyak mentah AS sebesar 1,02 juta barel, yang membuat pasar kini tengah menanti rilis data resmi dari US Energy Information Administration (EIA) untuk melihat arah pergerakan harga selanjutnya.


