Faktual.news – Perum Bulog akhirnya angkat bicara terkait isu kelangkaan beras kualitas premium yang sempat ramai diperbincangkan di tengah masyarakat. Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, membantah keras anggapan bahwa pasokan beras premium di jaringan ritel modern saat ini sedang mengalami krisis atau sulit ditemukan.
Rizal menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan langkah masif dengan menggelontorkan hampir 60 ribu ton beras premium ke pasar luas. Distribusi ini mencakup berbagai jaringan ritel besar yang menjangkau masyarakat, seperti Indomaret, Alfamart, hingga berbagai swalayan swasta lainnya. Untuk memastikan kelancaran arus pasokan, Bulog juga telah menjalin kerja sama strategis dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo).

"Kami tidak mengalami kendala. Kami sudah membuat perjanjian dengan rekan-rekan di Aprindo untuk memastikan seluruh ritel modern mendapatkan dukungan pasokan. Kami bahkan sudah melakukan pengecekan langsung di lapangan, mulai dari Semarang hingga Kendal," ujar Rizal saat memberikan keterangan di Jakarta Pusat.
Dalam kunjungannya ke Jawa Tengah, Rizal menjelaskan bahwa pabrik penggilingan milik Bulog di wilayah Semarang memiliki kapasitas produksi yang mumpuni, yakni mampu menyalurkan hingga 30 ton beras per hari. Hal ini menjadi bukti bahwa mesin produksi Bulog terus bergerak untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Saat ini, Bulog tengah berpacu dengan waktu untuk mengejar target pemerintah, yakni penyaluran total 300 ribu ton beras premium. Hingga awal September lalu, tercatat sebanyak 110 ribu ton telah berhasil didistribusikan. Untuk mempercepat pencapaian target tersebut, Bulog tidak bekerja sendirian. Perusahaan pelat merah ini menggandeng sekitar 868 penggilingan padi dari berbagai skala.
Menariknya, kerja sama ini tidak hanya melibatkan raksasa industri seperti Wilmar atau Topi Koki, tetapi juga merangkul penggilingan padi skala kecil hingga menengah yang memiliki standar kualitas premium. Strategi ini diambil agar pasokan beras premium dapat tersebar merata dari Sabang hingga Merauke dalam waktu singkat.
Rizal juga memberikan klarifikasi penting mengenai jenis beras yang mereka pasarkan. Ia menekankan bahwa beras premium yang digelontorkan Bulog adalah produk komersial murni, bukan beras subsidi atau beras Program Stabilisasi Harga (PSO). "Beras premium ini tidak menggunakan subsidi pemerintah. Kami membeli gabah secara komersial untuk diolah menjadi beras kualitas tinggi," tambahnya.
Meski Bulog mengklaim pasokan aman, realita di lapangan menunjukkan dinamika yang berbeda di beberapa titik. Berdasarkan pantauan di wilayah Bekasi, seperti di kawasan Jatiasih, beberapa gerai ritel justru melaporkan kekosongan stok beras premium kemasan 5 kilogram. Beberapa pegawai toko menyebutkan bahwa stok kosong telah berlangsung selama beberapa pekan akibat kendala pengiriman dari pusat distribusi.
Kondisi ini juga berdampak pada fluktuasi harga. Data dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) menunjukkan harga rata-rata nasional beras premium berada di angka Rp15.680 per kilogram. Angka tersebut terpantau lebih tinggi sekitar 5,23 persen dibandingkan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp14.900 per kilogram. Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Bulog untuk memastikan distribusi tetap stabil dan harga tetap terjangkau oleh masyarakat luas.


