faktual.news – Mata uang kebanggaan Indonesia rupiah menunjukkan taringnya pada penutupan perdagangan Jumat sore. Rupiah berhasil menembus level Rp17.903 per dolar Amerika Serikat, melesat 13 poin atau setara 0,07 persen dari posisi hari sebelumnya. Kinerja impresif ini sontak menjadi sorotan di tengah gejolak pasar global.
Performa perkasa rupiah ini sejalan dengan tren positif yang melanda sebagian besar mata uang di benua Asia. Sebut saja peso Filipina yang melonjak 0,43 persen, ringgit Malaysia yang menguat 0,31 persen, dolar Singapura yang terapresiasi 0,11 persen, yen Jepang yang naik 0,40 persen, hingga won Korea Selatan yang memimpin dengan kenaikan 1,14 persen terhadap dolar AS. Namun, tidak semua mata uang Asia bernasib sama, yuan China tercatat melemah tipis 0,03 persen dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen.

Di kancah global, pergerakan mata uang utama negara maju menunjukkan variasi. Euro Eropa berhasil menguat 0,08 persen, poundsterling Inggris naik 0,11 persen, dan dolar Australia melaju 0,20 persen. Sementara itu, dolar Kanada justru terpeleset 0,06 persen dan franc Swiss terkoreksi 0,13 persen di hadapan dolar AS.
Menurut pengamatan Lukman Leong, seorang analis mata uang dari DOO Financial Futures, lonjakan rupiah dan mayoritas mata uang di kawasan Asia tak lepas dari beberapa faktor pendorong. Penurunan harga minyak mentah global, merosotnya imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta pelemahan indeks dolar AS menjadi katalis utama. Harapan akan dimulainya kembali perundingan antara Amerika Serikat dan Iran, yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz, turut memberikan sentimen positif yang menekan dominasi dolar AS.


