faktual.news – Harga saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mendadak terjun bebas, merosot 5,73 persen ke level Rp12.350 pada penutupan perdagangan Jumat (11/9). Gejolak ini sontak memicu tanda tanya besar di kalangan investor, menyusul beredarnya kabar panas mengenai rencana akuisisi mayoritas saham perusahaan batu bara raksasa milik Low Tuck Kwong oleh kelompok usaha konglomerat Andi Syamsuddin Arsyad, alias Haji Isam.
Pergerakan saham BYAN hari itu memang dramatis. Dibuka di angka Rp12.900, saham sempat menyentuh puncak Rp13.000 sebelum kemudian anjlok tajam hingga menyentuh level terendah Rp12.150. Penutupan di Rp12.350 berarti saham BYAN kehilangan Rp750 dari harga penutupan sebelumnya yang berada di Rp13.100.

Kabar yang mengguncang lantai bursa ini pertama kali dihembuskan oleh Bloomberg News pada Rabu (9/9). Disebutkan bahwa salah satu entitas bisnis yang terafiliasi dengan Haji Isam mengajukan penawaran fantastis sekitar US$3 miliar, atau setara dengan Rp52,53 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.510 per dolar AS), untuk menguasai sekitar 62 persen saham Bayan Resources. Mayoritas saham yang dibidik kabarnya adalah milik Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine. Namun, perlu dicatat, validitas laporan ini belum berhasil diverifikasi secara independen oleh Reuters.
Menanggapi rumor yang beredar luas, manajemen Bayan Resources melalui Corporate Secretary Jenny Quantero memberikan klarifikasi. Jenny menegaskan bahwa perseroan tidak mengetahui adanya rencana pengambilalihan atau akuisisi sekitar 62,2 persen saham BYAN oleh Haji Isam maupun pihak-pihak yang terafiliasi dengannya. Manajemen juga menyatakan tidak memiliki informasi detail mengenai pihak-pihak yang terlibat, struktur transaksi, porsi saham yang akan dialihkan, maupun nilai transaksi yang santer diberitakan.
Bayan sebelumnya telah menjelaskan bahwa pemegang saham pengendali memang terbuka untuk mempertimbangkan berbagai peluang investasi dari waktu ke waktu. Namun, hingga pernyataan resmi ini diterbitkan, perseroan memastikan tidak ada informasi atau kejadian material lain yang belum disampaikan kepada publik dan berpotensi mempengaruhi kelangsungan usaha atau harga saham mereka. Oleh karena belum ada transaksi yang terkonfirmasi, manajemen juga belum dapat menjelaskan dampak potensial terhadap pengendalian perusahaan, serta menegaskan bahwa informasi akuisisi ini tidak berdampak material pada operasional maupun kinerja keuangan.
Analis pasar turut angkat bicara mengenai fenomena ini. Nafan Aji dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai bahwa pelemahan BYAN sangat mungkin berkaitan erat dengan sentimen dari pemberitaan akuisisi tersebut. Namun, menurutnya, pasar lebih bereaksi terhadap ketidakpastian harga dan struktur transaksi, bukan semata-mata aksi akuisisinya. Nafan juga melihat koreksi ini sebagai aksi ambil untung setelah saham BYAN sebelumnya sempat melesat hingga Rp17.275. Lebih lanjut, nilai tawaran sekitar US$3 miliar untuk 62 persen saham dinilai jauh di bawah nilai pasar wajar, menambah lapisan ketidakpastian mengenai valuasi transaksi.
Senada, Founder Republik Investor Hendra Wardana berpendapat bahwa ambruknya saham BYAN lebih banyak dipengaruhi oleh aksi ambil untung dan surutnya ekspektasi pasar terhadap isu akuisisi, bukan karena fundamental perusahaan yang tiba-tiba memburuk. Hendra menjelaskan, investor sebelumnya memberikan premi spekulatif terhadap BYAN karena munculnya kabar potensi pengambilalihan. Ketika transaksi belum mendapat kepastian resmi, sebagian investor memilih untuk merealisasikan keuntungan mereka.
Ia juga menyoroti bahwa angka US$3 miliar belum dapat dianggap sebagai harga transaksi final, mengingat masih banyak aspek yang perlu diperjelas, termasuk struktur pembayaran, sumber pendanaan, hak pengendalian, valuasi aset, serta persyaratan transaksi lainnya. Hendra menekankan bahwa kinerja operasional Bayan tetap menjadi faktor krusial dalam menentukan valuasi saham. Oleh karena itu, koreksi yang terjadi hari ini belum dapat langsung diartikan sebagai perubahan fundamental perusahaan. Kini, investor masih menanti kepastian mengenai realisasi rencana akuisisi tersebut serta detail struktur dan nilai transaksi yang sebenarnya.


