faktual.news – Konsumen bahan bakar minyak non-subsidi di Indonesia harus bersiap menghadapi kemungkinan lonjakan harga yang signifikan. PT Pertamina Patra Niaga, melalui Direktur Pemasaran Ritel Eko Ricky Susanto, baru-baru ini mengungkapkan bahwa harga BBM seperti Pertamax dan Pertamina Dex berpotensi melonjak hingga menyentuh angka Rp18.000 sampai Rp20.000 per liter. Peringatan ini muncul seiring dengan terus meroketnya harga minyak mentah di pasar global.
Eko Ricky Susanto menjelaskan bahwa proyeksi kenaikan harga ini didasari oleh belum adanya tanda-tanda stabilisasi atau penurunan harga minyak dunia. Kondisi pasar energi global saat ini dihadapkan pada tekanan yang jauh lebih berat, terutama akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah. Menurutnya, dampak dari konflik di kawasan tersebut terasa lebih signifikan dibandingkan ketika perang Rusia-Ukraina pecah beberapa waktu lalu.

Salah satu pemicu utama adalah ancaman terhadap Selat Hormuz, sebuah jalur maritim yang sangat krusial bagi lalu lintas energi dunia. Gangguan di wilayah ini secara langsung memengaruhi ketersediaan pasokan dan stabilitas harga minyak secara global. Eko menegaskan bahwa ketidakpastian ini tidak hanya berdampak pada volume pasokan energi, tetapi juga membuat harga sulit untuk kembali normal.
Pertamina Patra Niaga berharap harga minyak dunia dapat kembali mereda ke kisaran US$60-US$70 per barel, seperti kondisi sebelum krisis geopolitik terjadi. Namun, harapan ini sangat bergantung pada dinamika dan perkembangan situasi global yang masih penuh ketidakpastian.
Sebagai gambaran, harga minyak dunia memang tengah menunjukkan tren kenaikan yang mengkhawatirkan. Pada Jumat (11/9) lalu, harga minyak Brent tercatat melonjak US$1,05 atau sekitar 1 persen menjadi US$108,68 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga naik 95 sen atau sekitar 1 persen menjadi US$103,45 per barel. Kedua harga acuan ini bahkan telah mengalami lonjakan drastis lebih dari 6 persen pada perdagangan sehari sebelumnya, mencatatkan kenaikan mingguan tertinggi sejak pertengahan Juli lalu. Situasi ini jelas menjadi sinyal kuat akan potensi kenaikan harga BBM di dalam negeri.


