faktual.news – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara membuat gebrakan signifikan dengan menyatukan 49 hotel milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah payung PT Hotel Indonesia Natour (HIN). Langkah strategis ini merupakan bagian dari upaya besar pemerintah untuk merampingkan dan mengoptimalkan aset-aset negara, sekaligus menciptakan efisiensi operasional yang lebih baik di sektor perhotelan.
CEO BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menjelaskan bahwa konsolidasi portofolio hotel pelat merah ini adalah elemen krusial dalam peta jalan restrukturisasi BUMN secara menyeluruh. Tujuannya jelas, untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas aset-aset yang dimiliki negara. Rosan menambahkan, "Kami terus melakukan penggabungan, baik itu rumah sakit maupun hotel. Dari total 137 hotel yang kita miliki, kini 49 di antaranya telah digabungkan. Ini adalah salah satu program yang kami genjot dengan target akhir tahun ini bisa mencapai sekitar 300 perusahaan BUMN yang telah dirampingkan." Pernyataan ini disampaikan Rosan dalam konferensi pers RAPBN dan Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027 di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pusat Kementerian Keuangan.

Penataan portofolio perhotelan ini berjalan seiring dengan perampingan entitas BUMN di sektor lain. Dari sekitar 1.074 perusahaan BUMN yang ada, pemerintah telah berhasil memangkas sekitar 290 perusahaan melalui berbagai skema, mulai dari merger, likuidasi, divestasi, hingga konsolidasi vertikal. Integrasi ini tidak hanya menyasar sektor perhotelan dan layanan kesehatan, tetapi juga merambah sektor jasa keuangan, di mana perusahaan manajer investasi yang sebelumnya tersebar di berbagai bank BUMN kini juga mulai disatukan.
"Target kami memang pada akhir tahun ini bisa mencapai kurang lebih 300 perusahaan BUMN. Namun, kami akui ini bukan pekerjaan mudah dan sangat berat, karena harus mempertimbangkan semua aspek," tegas Rosan. Ia menekankan bahwa perampingan ini bukan sekadar mengurangi jumlah entitas bisnis, melainkan untuk menata skala ekonomi BUMN agar mampu bersaing secara lebih kompetitif di kancah regional maupun global. "Ini adalah target kami untuk streamlining, sehingga kami bisa menciptakan efisiensi, meningkatkan produktivitas, dan mengoptimalkan aset-aset yang kita miliki," pungkasnya.


