Faktual News – Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, melontarkan peringatan keras mengenai laju perkembangan teknologi yang kian pesat. Menurutnya, pertumbuhan inovasi digital tidak boleh melampaui tingkat literasi dan tanggung jawab finansial masyarakat. Pernyataan ini disampaikan Anggito saat membuka gelaran Jogja Financial Festival (JFF) di Jogja Expo Centre (JEC) pada Jumat (21/5), menegaskan bahwa edukasi keuangan harus bersifat inklusif dan digencarkan secara masif.
Anggito menyoroti fenomena yang cukup mengkhawatirkan di tengah masyarakat. Ia mengamati banyak generasi muda yang antusias membuka akun investasi, namun sayangnya belum dibekali kemampuan menyusun perencanaan keuangan yang matang. Ironisnya, di tengah gencarnya transaksi digital, banyak rekening bank justru menunjukkan aktivitas yang pasif. Lebih jauh, kemudahan akses teknologi juga menjadi bumerang, menjebak banyak individu dalam jeratan pinjaman online ilegal dan judi online yang merugikan.

"Kita tidak boleh membiarkan laju teknologi melesat lebih cepat daripada fondasi etika literasi dan tanggung jawab finansial yang kita miliki sebagai bangsa," tegas Anggito, sembari menyerukan optimisme yang terukur. Ia menambahkan, pesatnya kemajuan teknologi juga menjadi lahan subur bagi maraknya kejahatan keuangan. Modus investasi bodong dan skema penipuan lainnya kian menjamur, memanfaatkan celah rendahnya pemahaman masyarakat akan seluk-beluk dunia finansial.
Dalam konteks inilah, Anggito menggarisbawahi urgensi literasi keuangan yang komprehensif, khususnya mengingat besarnya populasi usia produktif di Indonesia. "Kita memiliki 190 juta penduduk dalam usia produktif, sebuah bonus demografi terbesar sepanjang sejarah Republik ini," ujarnya. Ia memandang generasi muda Indonesia sebagai aset berharga, yang paling digital, terkoneksi, dan kreatif yang pernah ada.
Anggito menegaskan bahwa peran generasi muda tidak boleh berhenti sebagai konsumen teknologi keuangan semata. Sebaliknya, mereka didorong untuk bertransformasi menjadi investor produktif, melahirkan wirausahawan baru, bahkan menjadi pencipta inovasi. "Pertumbuhan investasi ritel di Indonesia menunjukkan tren peningkatan signifikan setiap tahun, dengan dominasi kaum muda, mahasiswa, dan pelajar yang semakin besar. Ini adalah sinyal positif yang patut kita apresiasi," jelasnya. Namun, ia mewanti-wanti, "Optimisme tanpa dibarengi literasi yang memadai dapat dengan mudah bergeser menjadi spekulasi yang berujung pada kerugian."
Jogja Financial Festival (JFF) 2026, yang dijadwalkan berlangsung pada 22-23 Mei, diproyeksikan akan menarik lebih dari 10.000 peserta fisik dari beragam latar belakang daerah, profesi, pendidikan, dan generasi. Festival ini diharapkan menjadi katalisator perubahan dalam pendekatan literasi keuangan, menjauhi kesan eksklusif dan menyajikannya dalam bahasa yang sederhana, populer, kreatif, serta relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. "Oleh karena itu, kami mengadopsi pendekatan yang jauh lebih inklusif, merangkul sekolah, kampus, komunitas kreatif, pelaku UMKM, media digital, bahkan melibatkan artis nasional dan lokal, hingga kegiatan olahraga," pungkas Anggito, menunjukkan komitmen LPS dalam menyebarkan pemahaman finansial secara merata.


