faktual.news – Arisan telah lama menjadi tradisi populer di tengah masyarakat Indonesia sebagai sarana menghimpun dana atau sekadar bersosialisasi. Namun, di balik kemudahan dan kebersamaan itu, tersimpan modus penipuan berkedok arisan yang siap memangsa siapa saja. Iming-iming keuntungan fantastis dalam waktu singkat seringkali menjadi umpan utama. Para ahli keuangan mengingatkan, mengenali ciri-ciri arisan bodong adalah langkah krusial agar tabungan Anda tidak lenyap begitu saja.
Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andi Nugroho, menyoroti janji keuntungan yang tidak masuk akal sebagai sinyal bahaya pertama. Bayangkan, uang yang Anda setorkan bisa berlipat ganda dua atau bahkan tiga kali lipat dalam periode yang sangat singkat. Logika sederhana seharusnya sudah membunyikan alarm: dari mana sumber keuntungan sebesar itu? Ini adalah indikator kuat bahwa skema tersebut tidak realistis dan berpotensi menjadi jebakan.

Senada, perencana keuangan Oneshildt, Budi Rahardjo, mengungkapkan bahwa arisan bodong kerap kali menjadi kedok bagi skema Ponzi atau investasi fiktif. Salah satu ciri paling mencolok adalah agresivitas pengelola dalam merekrut anggota baru. Berbeda dengan arisan konvensional yang umumnya melibatkan lingkaran pertemanan atau keluarga yang saling mengenal, arisan bodong justru gencar mencari mangsa di mana saja, tanpa memandang latar belakang.
Lalu, apa saja tanda-tanda lain yang patut diwaspadai agar Anda tidak terjerumus?
Pertama, mekanisme yang tidak transparan. Jika admin atau pengelola kesulitan menjelaskan bagaimana sistem arisan bekerja, bagaimana penentuan pemenang dilakukan, atau bahkan menutupi identitas anggota lain, ini adalah lampu merah. Keterbukaan adalah kunci dalam setiap transaksi keuangan.
Kedua, lingkaran anggota yang tidak saling mengenal. Arisan yang sehat biasanya dibangun atas dasar kepercayaan antarpeserta. Apabila Anda bergabung dengan kelompok yang mayoritas anggotanya asing, luangkan waktu untuk berkomunikasi dan berkenalan. Kurangnya interaksi dan transparansi antaranggota bisa menjadi celah bagi penipuan.
Ketiga, kesulitan menghubungi admin. Admin yang mendadak sulit dihubungi, tidak responsif terhadap pertanyaan, atau bahkan mengunci grup komunikasi sehingga hanya ia yang bisa mengirim pesan, adalah pertanda buruk. Komunikasi yang tersendat menandakan adanya masalah dalam pengelolaan.
Keempat, dan ini yang paling serius, penundaan pencairan dana. Jika jadwal pencairan mulai mundur, admin memberikan berbagai alasan, atau bahkan menghilang saat jatuh tempo, maka sistem arisan tersebut dipastikan sudah kolaps. Budi Rahardjo menegaskan, hambatan pembayaran adalah bukti nyata bahwa arisan telah gagal dan berpotensi merugikan peserta.
Bagaimana cara melindungi diri dari ancaman arisan bodong? Kuncinya adalah tidak mudah silau dengan iming-iming keuntungan instan yang besar. Selalu pertanyakan logika di balik penawaran tersebut. Pastikan admin dapat menjelaskan skema arisan secara gamblang dan masuk akal. Lebih baik lagi, pilih arisan yang pesertanya sudah Anda kenal dan percayai.
Andi Nugroho menambahkan, rendahnya literasi keuangan dan keinginan masyarakat untuk meraih kekayaan secara cepat seringkali menjadi pemicu utama banyaknya korban. Bahkan, Budi Rahardjo mengingatkan, tawaran dari orang terdekat sekalipun, entah teman atau saudara, harus tetap disikapi dengan kritis. Modus penipuan ini terus berevolusi, mengikuti perkembangan zaman dan memanfaatkan sifat spekulatif sebagian orang. Oleh karena itu, kewaspadaan adalah tameng terbaik Anda.


