faktual.news – Pasar saham Indonesia baru saja menutup pekan perdagangan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali menguat tipis. Namun, pertanyaan besar kini menggantung: ke mana arah pergerakan pasar selanjutnya? Para pakar telah membocorkan saham-saham pilihan yang berpotensi mendulang keuntungan besar di tengah bayang-bayang sentimen global dan domestik yang dinamis.
Pada penutupan perdagangan Jumat 10 Juli 2026, IHSG berhasil menanjak 0,20 persen atau 11,91 poin, bertengger di level 5.924. Aktivitas transaksi investor mencapai Rp8,85 triliun dengan total 18,51 miliar lembar saham berpindah tangan. Sepanjang pekan lalu, indeks saham menunjukkan performa positif dengan empat hari penguatan dan hanya satu hari pelemahan, sehingga mencatat kenaikan 0,83 persen. Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kautsar Primadi Nurahmad menyatakan bahwa periode 6 hingga 10 Juli 2026, mayoritas perdagangan saham ditutup dengan hasil menggembirakan. Kapitalisasi pasar bursa turut melesat 0,51 persen dari Rp10.287 triliun menjadi Rp10.340 triliun. Rata-rata volume transaksi harian juga melonjak 16,83 persen, mencapai 20,49 miliar lembar saham dari sebelumnya 17,54 miliar. Meski rata-rata nilai transaksi harian sedikit menurun 8,88 persen menjadi Rp10,27 triliun, frekuensi transaksi harian justru naik signifikan 29,69 persen dari 1,44 juta menjadi 1,87 juta kali. Namun, investor asing mencatat nilai jual bersih Rp421,70 miliar pada Jumat dan total Rp76,15 triliun sepanjang tahun 2026.

Menatap pekan depan, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi memprediksi IHSG akan bergerak bervariasi cenderung melemah. Indeks diperkirakan akan bergerak di antara level support 5.840 dan resistance 6.040. Pergerakan ini akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, baik dari kancah global maupun domestik. "Pasar akan mencermati berakhirnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran serta potensi penutupan kembali Selat Hormuz," ungkapnya. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga minyak mentah global yang pada gilirannya dapat mendorong bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali menyentuh Rp18.080 per dolar AS masih menjadi sorotan pelaku pasar yang menanti kepastian stabilitas ekonomi. Tekanan semakin kuat dengan aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp1,74 triliun dalam sepekan, menambah total net sell sepanjang tahun menjadi Rp75,6 triliun.
Meski demikian, Oktavianus merekomendasikan beberapa saham yang layak dilirik investor. Saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang pekan lalu ditutup menguat 4,37 persen ke posisi 2.390, diproyeksikan dapat menyentuh level 2.550. Selain itu, saham PT Timah (Persero) Tbk (TINS) yang melonjak 3,27 persen ke 3.470, berpotensi mencapai 4.010 pekan ini.
Sementara itu, Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memiliki pandangan berbeda. Ia memperkirakan IHSG akan cenderung bergerak sideways atau mendatar dengan level support di 5.742 dan resistance di 6.112. Pelaku pasar akan terus mencermati berbagai faktor pemicu seperti risalah rapat bank sentral AS The Fed yang kemungkinan besar masih mengindikasikan suku bunga tinggi bertahan lebih lama, rilis laporan keuangan emiten kuartal II 2026, data makroekonomi dari Tiongkok, serta fluktuasi nilai tukar rupiah dan harga komoditas global.
Herditya juga membagikan daftar saham pilihannya. Ia merekomendasikan saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) yang pekan lalu menguat 4,71 persen ke 1.000 dengan proyeksi target 1.225. Selanjutnya, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang naik 0,99 persen ke 4.080, diperkirakan bisa mencapai 4.270. Terakhir, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) yang ditutup menguat 0,98 persen ke 1.540, diproyeksikan memiliki potensi menuju 1.700.
Perlu diingat, berita ini bukan merupakan rekomendasi investasi. Keputusan jual beli saham sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.


