faktual.news – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto secara tegas memproyeksikan kecerdasan buatan atau AI sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Pemerintah kini tengah bergerak cepat membangun fondasi infrastruktur dan ekosistem digital demi memastikan adopsi teknologi mutakhir ini dapat dimanfaatkan secara optimal di seluruh penjuru negeri.
Airlangga menekankan bahwa percepatan transformasi digital dan pemanfaatan AI merupakan agenda utama di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Keunggulan AI terletak pada efisiensinya yang luar biasa dan kemampuannya untuk beroperasi tanpa terhambat oleh kerentanan jalur logistik fisik global. "Transformasi digital tak perlu melewati Selat Hormuz. Ini adalah jalur cepat kita menuju kemajuan," ujar Airlangga dalam sebuah forum ekonomi di Jakarta.

Guna mewujudkan ambisi ini, pemerintah telah menjalin kemitraan strategis di hulu ekosistem digital. Salah satunya adalah menggandeng Arm, raksasa teknologi asal Inggris yang menguasai lebih dari 90 persen pengembangan desain cip. Kolaborasi ini juga mencakup program pelatihan bagi 15.000 teknisi dan insinyur untuk memperkuat ekosistem Arm di Indonesia.
Potensi Indonesia sebagai hub digital semakin nyata dengan kapasitas pusat data terpasang yang mencapai 580 Megawatt. Bahkan, komitmen investasi baru dalam daftar tunggu telah melonjak hingga 1,3 Gigawatt. Daya tarik ini diperkuat oleh kesiapan jaringan kabel serat optik transmisi global, mulai dari jalur Batam-Singapura hingga Bitung yang terkoneksi langsung ke Amerika Serikat.
Langkah strategis pemerintah ini sekaligus menjawab sorotan Kamar Dagang dan Industri Indonesia Kadin terkait konsentrasi modal global yang kini masif mengalir ke segelintir perusahaan teknologi raksasa. Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Luar Negeri Kadin Indonesia James Riady mencontohkan bagaimana dana global berebut masuk ke IPO SpaceX hingga penawaran saham perdana SK Hynix yang mengalami kelebihan pemesanan berkali-kali lipat.
"Uang terus mengalir ke Amerika Serikat dan ke sejumlah kecil perusahaan teknologi, khususnya di sektor infrastruktur AI, semikonduktor, pusat data, dan kapasitas komputasi. Terjadi konsentrasi modal yang sangat besar," ungkap James.
Menurut James, tantangan terbesar bagi Indonesia adalah bagaimana beralih dari sekadar konsumen menjadi pemain kunci dan bagian integral dari rantai nilai global. Namun, dengan jaminan infrastruktur digital yang dipaparkan pemerintah, James membocorkan bahwa Indonesia kini siap menerima banjir investasi digital bernilai fantastis dari investor global.
"Ke depan, kecerdasan buatan akan menjadi panggung utama bagi Indonesia. Bahkan, akan ada puluhan miliar dolar yang masuk untuk membangun pusat komputasi, membawa cip-cip GPU paling canggih ke sini," tuturnya optimis.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menambahkan, pihaknya siap menjadi penghubung strategis untuk merealisasikan kesepakatan teknologi tingkat tinggi ini menjadi investasi nyata dan menciptakan lapangan kerja di berbagai daerah. "Rantai pasok, arus investasi, kebijakan industri, teknologi, ketahanan energi, ketahanan pangan, dan geopolitik kini bergerak bersama. Bagi Indonesia, ini berarti diplomasi ekonomi tidak lagi dapat dipisahkan dari dunia usaha. Hubungan antarpemerintah membutuhkan eksekusi antarbisnis di baliknya," pungkas Anindya.


