faktual.news – PT Pertamina Patra Niaga siap mengukir sejarah baru dalam industri energi Indonesia dengan mengalokasikan dana fantastis senilai US$1,1 miliar atau setara Rp19,3 triliun. Investasi raksasa ini ditujukan untuk membangun Biorefinery Cilacap, sebuah fasilitas mutakhir yang digadang-gadang akan menjadi tulang punggung produksi bahan bakar pesawat berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) atau bioavtur di tanah air.
Hermawan Budiantoro, Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap, mengungkapkan bahwa proyek ambisius ini merupakan wujud nyata komitmen Pertamina dalam mendorong transisi energi hijau. "Estimasi total investasi untuk kilang hijau ini mencapai sekitar US$1,1 miliar," jelas Hermawan dalam sebuah pertemuan media di Cilacap, Jawa Tengah.

Saat ini, produksi SAF di Indonesia masih terbatas, hanya 27 kiloliter per hari yang dihasilkan dari unit Treated Distillate Hydrotreating (TDHT) Kilang Pertamina Cilacap. Namun, dengan hadirnya biorefinery baru ini, kapasitas produksi bioavtur diproyeksikan melonjak drastis. Fasilitas anyar ini diharapkan mampu menambah produksi hingga 860 kiloliter per hari, membawa total kapasitas menjadi 887 kiloliter per hari. Ini berarti sebuah peningkatan luar biasa sebesar 3.185 persen.
Pertamina telah mengambil langkah maju dengan melaksanakan Groundbreaking Proyek Biorefinery Cilacap Fase 2 pada Februari 2026, menandai dimulainya pembangunan kilang hijau mandiri pertama di Indonesia. Tahun ini, perusahaan pelat merah tersebut juga sedang memfinalisasi Keputusan Investasi Akhir (FID) serta menjajaki kemitraan strategis untuk proyek vital ini. Tahap Engineering, Procurement, and Construction (EPC) direncanakan akan dimulai pada tahun 2027, dengan target operasi penuh (onstream) pada tahun 2029.
Proyek yang akan berdiri di atas lahan seluas 17,5 hektare ini tidak hanya menjanjikan revolusi energi, tetapi juga berbagai dampak positif berantai bagi perekonomian nasional. Diperkirakan, fasilitas ini akan menyumbang hingga Rp199 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Lebih dari itu, kilang hijau ini diproyeksikan mampu mereduksi emisi karbon hingga 600 ribu ton setara CO2 setiap tahun, sebuah kontribusi signifikan dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Dari sisi ketenagakerjaan, proyek ini ditargetkan mampu menyerap 5.900 tenaga kerja lokal, dengan komitmen pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 30 persen. Inisiatif ini menegaskan peran Pertamina dalam menciptakan masa depan aviasi yang lebih bersih dan berkelanjutan, sekaligus menggerakkan roda ekonomi bangsa.


