faktual.news – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan OJK Friderica Widyasari Dewi mengakui geliat transaksi di bursa karbon Indonesia masih terbilang lesu. Perempuan yang akrab disapa Kiki itu menyoroti bahwa pengembangan pasar karbon bukanlah perkara mudah namun ia menegaskan implementasi di Indonesia jauh lebih baik dibanding beberapa negara lain.
Kiki mengungkapkan bahwa untuk mendongkrak performa bursa karbon agar setara dengan raksasa seperti Tiongkok dibutuhkan dukungan yang jauh lebih masif. OJK sendiri tidak tinggal diam dan telah menyiapkan sejumlah langkah strategis.

Salah satu inisiatif kunci OJK adalah program Satu Karsa. Ini merupakan platform pembiayaan campuran atau blended finance yang dirancang khusus untuk mendukung proyek-proyek karbon berbasis alam. Program ini menjamin kredibilitas dan integritas proyek serta merupakan hasil kolaborasi erat dengan Kementerian Kehutanan. Melalui pendekatan inovatif ini Indonesia berupaya menarik investor jangka panjang guna memulihkan ekosistem sekaligus menghasilkan kredit karbon berkualitas tinggi.
Kiki menambahkan bahwa peluncuran Satu Karsa diharapkan terlaksana pada awal Juli mendatang. Dalam acara tersebut beberapa proyek yang unit karbonnya dapat diperdagangkan di bursa akan diperkenalkan. Langkah ini krusial untuk memperkuat baik pasar primer maupun pasar sekunder karbon di Tanah Air demi kemajuan dan perkembangan pasar karbon Indonesia.
Selain itu OJK juga telah menerbitkan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia. Pedoman ini menjadi panduan penting bagi seluruh industri jasa keuangan mulai dari perbankan pasar modal asuransi hingga dana pensiun untuk menyalurkan pembiayaan yang mendukung target net zero emission Indonesia pada 2060. Kiki menekankan bahwa semua inisiatif besar ini tidak akan terwujud tanpa sokongan kuat dari sektor keuangan.
Data OJK per 29 Mei 2026 menunjukkan bahwa jumlah pengguna jasa yang terdaftar di IDXCarbon baru mencapai 155 entitas. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan bursa karbon Uni Eropa yang memiliki 11 ribu peserta atau Tiongkok dengan 3.300 peserta.
Secara agregat volume transaksi bursa karbon Indonesia tercatat 1,98 juta ton setara karbon dioksida tCO2e dengan nilai total Rp93,76 miliar. Khusus sepanjang Mei lalu volume transaksi hanya mencapai 219 ton CO2e senilai Rp13,33 juta dengan frekuensi 11 kali transaksi. Angka ini bahkan lebih rendah dibandingkan April 2026 yang mencatat 554 ton CO2e senilai Rp42,58 juta dari 15 kali transaksi. Hingga kini baru 10 Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca SPE-GRK yang tercatat dengan total unit karbon tersedia mencapai 3,14 juta ton CO2e.


