faktual.news – Pengusaha ternama asal Kalimantan Selatan, Andi Samsudin Arsyad atau yang akrab disapa Haji Isam, akhirnya angkat bicara terkait polemik di media sosial mengenai kapal pesiar mewahnya, J7 Explorer, yang terpampang logo Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Bukan untuk pelesiran mewah, Haji Isam mengungkapkan fakta mengejutkan di balik kapal berbobot 8.076 GT tersebut.
Menurut Haji Isam, kapal yang rampung dibangun di Batam pada tahun 2022 itu kini beralih fungsi menjadi pangkalan bergerak atau floating base camp. Armada megah ini didedikasikan untuk menopang proyek cetak sawah skala besar di Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Kapal J7 Explorer berperan vital sebagai pusat koordinasi, akomodasi sementara bagi para tenaga ahli, sekaligus titik tumpu logistik utama di tengah tantangan akses lapangan yang sulit.

Keterlibatan J7 Explorer ini, tegas Haji Isam, merupakan bagian dari kontribusi sektor swasta dalam mendukung agenda prioritas ketahanan pangan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Untuk mencapai target ambisius di Merauke, ribuan unit alat berat, termasuk sekitar 2.000 ekskavator yang didatangkan dari Tiongkok, serta para pakar dari Tiongkok, Jepang, dan Eropa, diterjunkan langsung ke lokasi proyek. Haji Isam menegaskan bahwa partisipasinya dalam mega proyek ini bukan semata-mata berorientasi pada keuntungan bisnis, melainkan wujud tanggung jawab menjalankan amanah negara. Harapannya, proyek ini tidak hanya memperkuat cadangan pangan nasional, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat Papua.
Kondisi geografis Papua Selatan yang terpencil dan minim infrastruktur darat menjadikan keberadaan J7 Explorer sangat krusial. Kapal raksasa ini kini bertransformasi menjadi tulang punggung infrastruktur penunjang demi kesuksesan program pangan nasional.
Sementara itu, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemenhan, Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait, membenarkan bahwa kapal milik Jhonlin Marine Transport tersebut memang dikerahkan untuk mendukung operasi dan logistik program strategis nasional, khususnya percepatan ketahanan pangan di berbagai wilayah Indonesia. Penempelan logo Kemenhan pada kapal tersebut, jelas Brigjen Rico, menandakan bahwa aktivitas operasional armada berada di bawah kendali dan penugasan resmi pemerintah. Kapal ini digunakan untuk mendukung kegiatan serta mobilisasi kebutuhan program ketahanan pangan yang dilaksanakan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Wanam di Papua Selatan, serta beberapa wilayah di Kalimantan dan Sumatera.


