Faktual News – Kenaikan harga beras yang signifikan telah menjadi sorotan utama di 111 daerah di Indonesia sepanjang Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS), melalui Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, atau akrab disapa Winny, telah mengidentifikasi beberapa faktor kunci yang memicu lonjakan harga komoditas pangan pokok ini, mulai dari dinamika harga di tingkat distributor, menipisnya stok, hingga belum tibanya masa panen di berbagai wilayah sentra produksi.
Winny menjelaskan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 bahwa pemicu utama yang teridentifikasi oleh BPS daerah adalah kenaikan harga dari distributor. "Fenomena yang kami tangkap adalah kenaikan harga dari distributor," ujarnya. Ia menambahkan, kenaikan ini bahkan terjadi di tingkat petani di beberapa wilayah Bali seperti Jembrana, Badung, Gianyar, dan Bangli, yang kemudian diperparah oleh kenaikan harga dari distributor luar Bali.

Data BPS menunjukkan bahwa rata-rata harga beras nasional hingga minggu kedua Mei 2026 mencapai Rp15.325 per kilogram, sedikit naik 0,04 persen dibanding bulan April yang berada di level Rp15.286 per kg. Kenaikan ini berdampak pada sekitar 30,83 persen wilayah Indonesia, dengan 111 kabupaten/kota melaporkan peningkatan Indeks Perkembangan Harga (IPH) beras.
Fenomena kenaikan harga beras ini tidak seragam di setiap daerah, mencerminkan kompleksitas rantai pasok dan kondisi geografis. Di Kota Denpasar, misalnya, inflasi beras bulanan mencapai 2,76 persen, dengan andil 0,11 persen terhadap inflasi, sebagian besar karena kenaikan harga dari distributor. Sementara itu, di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, inflasi beras melonjak hingga 6,54 persen secara bulanan dengan andil inflasi 0,37 persen. Amalia menjelaskan, "Stok menipis, dan belum panen, sehingga barang yang tersedia di pasar masih relatif sedikit." Situasi serupa juga terjadi di Palangkaraya, di mana pasokan beras lokal terbatas karena sejumlah varietas padi belum memasuki masa panen, ditambah dengan kenaikan harga beras dari Pulau Jawa yang masuk ke daerah tersebut. Kabupaten Tanah Laut dan Hulu Sungai Tengah di Kalimantan Selatan juga mengalami kenaikan harga akibat harga gabah yang tinggi dan pasokan terbatas dari pemasok, meskipun beberapa wilayah sudah mulai panen.
Beberapa daerah mencatat harga beras yang fantastis, jauh di atas rata-rata nasional. Kabupaten Intan Jaya memimpin dengan harga Rp48.606 per kg, diikuti Kabupaten Puncak Rp45.000 per kg, serta Kabupaten Puncak Jaya dan Tolikara masing-masing Rp32.404 per kg. Secara provinsi, Papua Barat menjadi yang tertinggi dengan rata-rata Rp17.815 per kg, disusul Papua Selatan Rp17.229 per kg dan Maluku Rp17.363 per kg. Kontrasnya, Banten dan Jawa Barat mencatat harga terendah, masing-masing Rp13.739 dan Rp13.811 per kg.
Menanggapi kondisi ini, Amalia memberikan sedikit harapan. Berdasarkan perkiraan dari survei produksi padi Kerangka Sampel Area (KSA) BPS, stok beras nasional diperkirakan akan mulai meningkat pada bulan Mei-Juni. Ini mengindikasikan bahwa tekanan harga mungkin akan mereda seiring dengan masuknya masa panen raya di lebih banyak wilayah, diharapkan dapat menstabilkan kembali pasokan dan harga di pasar.


