faktual.news – PT Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa penentuan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, seperti Pertamax dan Pertamina Dex, sepenuhnya berlandaskan pada formula yang ditetapkan pemerintah. Kepastian ini disampaikan di tengah gejolak parameter penentu harga, terutama pergerakan nilai minyak dunia dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus bergejolak.
Kitty Andhora, VP Communication Pertamina Patra Niaga, menjelaskan bahwa perusahaan berkomitmen mengikuti kebijakan pemerintah dalam penetapan harga BBM, baik untuk jenis subsidi maupun non-subsidi. "Meskipun ada dinamika pada sejumlah faktor pembentuk harga, untuk BBM subsidi sesuai arahan Pemerintah tidak akan mengalami penyesuaian harga hingga akhir tahun 2026," ujar Kitty dalam keterangan resminya.

Sementara itu, untuk Jenis BBM Umum (JBU) atau BBM non-subsidi, penetapan harganya akan tetap mengacu pada formula serta ketentuan yang telah diberlakukan oleh pemerintah.
Sebelumnya, Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, sempat mengutarakan potensi kenaikan harga BBM non-subsidi. Menurutnya, harga Pertamax, Dex, dan jenis lainnya berpotensi melonjak hingga kisaran Rp18.000 sampai Rp20.000 per liter jika harga minyak mentah global tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Eko menjelaskan, kondisi pasar energi global saat ini sangat dipengaruhi oleh konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah serta gangguan pada rute-rute energi vital, termasuk Selat Hormuz. Situasi ini berdampak langsung pada ketersediaan dan stabilitas harga minyak dunia.
Data menunjukkan, harga minyak mentah dunia masih bertengger di atas US$100 per barel. Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, harga minyak Brent merangkak naik sekitar satu persen, menyentuh level US$108,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga naik sekitar satu persen menjadi US$103,45 per barel. Kedua acuan harga ini sebelumnya telah melonjak lebih dari enam persen dalam satu hari perdagangan, dan secara mingguan, Brent serta WTI masing-masing telah menguat hampir 13 persen.
Eko berharap harga minyak dunia bisa kembali stabil di kisaran US$60-US$70 per barel, seperti sebelum krisis geopolitik melanda. Namun, ia mengakui bahwa pergerakan harga tersebut akan sangat bergantung pada perkembangan kondisi global ke depan. Pertamina Patra Niaga menegaskan akan terus menjalankan kebijakan pemerintah terkait harga dan distribusi BBM, serta menyesuaikan pelaksanaannya dengan regulasi yang berlaku.


