faktual.news – Pasar keuangan Indonesia kembali diwarnai sentimen negatif pada penutupan perdagangan Jumat (11/9) sore. Nilai tukar rupiah terperosok tajam, menembus angka Rp17.611 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan mata uang Garuda ini cukup mencolok, merosot 64 poin atau setara 0,36 persen dari posisi perdagangan sebelumnya, menandai hari yang berat bagi investor. Data kurs referensi Bank Indonesia (BI) melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga mencatat rupiah berada pada level yang sama, Rp17.611 per dolar AS.
Fluktuasi tak hanya melanda rupiah. Di kancah Asia, pergerakan mata uang menunjukkan pola yang bervariasi. Yen Jepang dan baht Thailand sama-sama tertekan, masing-masing melemah 0,13 persen dan 0,51 persen. Namun, beberapa mata uang lain justru menunjukkan kekuatan, seperti yuan China yang menguat 0,12 persen, peso Filipina melonjak 0,77 persen, dan won Korea Selatan naik 0,32 persen. Dolar Singapura juga mencatat penguatan 0,20 persen, sementara dolar Hong Kong terpantau stabil hingga akhir sesi perdagangan.

Kondisi berbeda terlihat pada mata uang utama negara-negara maju yang justru kompak bergerak di zona hijau. Euro Eropa perkasa dengan kenaikan 0,23 persen, diikuti poundsterling Inggris yang menguat tipis 0,03 persen, dan franc Swiss yang naik 0,18 persen. Dolar Australia juga tak ketinggalan menguat 0,12 persen, bersama dengan dolar Kanada yang naik 0,18 persen.
Menurut analisis Lukman Leong, seorang ahli mata uang dari Doo Financial Futures, tekanan terhadap rupiah pada penutupan perdagangan tak lepas dari pengaruh sentimen global. Gejolak geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utama ketidakpastian, ditambah dengan lonjakan harga minyak dunia yang turut membebani.
Lebih lanjut, Lukman menjelaskan bahwa indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi AS juga terpantau mengalami kenaikan. Hal ini merupakan respons pasar terhadap data inflasi produsen yang dirilis lebih tinggi dari perkiraan, menambah tekanan pada mata uang negara berkembang seperti rupiah. Situasi ini menciptakan kombinasi faktor yang menantang bagi stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global yang kompleks.


