faktual.news – Perdagangan bursa saham Indonesia ditutup dengan nada muram pada akhir pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan IHSG terperosok ke level 6.541, mencatatkan penurunan signifikan yang membuat investor cemas. Kelesuan ini menjadi penutup pekan yang kurang menggembirakan bagi pasar modal domestik.
Data dari RTI Infokom menunjukkan, indeks saham acuan tersebut kehilangan 47,96 poin atau setara 0,73 persen dari posisi penutupan sebelumnya. Meskipun pasar lesu, aktivitas transaksi tetap tinggi. Total nilai transaksi mencapai Rp14,68 triliun, dengan 30,44 miliar lembar saham berpindah tangan sepanjang hari perdagangan.

Sayangnya, mayoritas saham harus gigit jari. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 453 emiten terpantau melemah, jauh melampaui 183 saham yang berhasil menguat. Sementara itu, 153 saham lainnya memilih untuk stagnan, tidak bergerak dari posisi awal. Kelesuan pasar tidak pandang bulu, seluruh sektor indeks kompak terjerembab ke zona merah. Sektor barang konsumen non-primer menjadi yang paling terpukul, anjlok hingga 1,38 persen.
Sentimen negatif dari pasar domestik ternyata sejalan dengan kondisi bursa regional Asia. Mayoritas indeks utama di kawasan tersebut juga bernasib serupa. Indeks Hang Seng Composite di Hong Kong melemah 0,60 persen, disusul Shanghai Composite di China yang anjlok 1,18 persen. Sementara itu, Nikkei 225 Jepang juga tak luput dari tekanan, turun 1,93 persen. Hanya indeks Straits Times di Singapura yang mampu melawan arus, menguat tipis 0,05 persen.
Namun, ada secercah harapan dari Benua Biru. Bursa saham Eropa justru menunjukkan performa yang mengesankan. Indeks DAX di Jerman berhasil menguat 0,52 persen, dan indeks FTSE 100 di Inggris juga mencatatkan kenaikan 0,35 persen.
Berbeda lagi dengan Amerika Serikat. Wall Street justru kompak ditutup di teritori negatif, menambah daftar panjang kekhawatiran global. Indeks S&P 500 melemah 0,58 persen, NASDAQ Composite minus 0,65 persen, dan Dow Jones juga turun 0,60 persen. Kondisi pasar global yang beragam ini mencerminkan dinamika ekonomi yang kompleks dan penuh tantangan.


