Faktual News – Nama Michael Saylor belakangan ini menjadi perbincangan hangat di kalangan investor global. Miliarder asal Amerika Serikat ini, yang kekayaannya diperkirakan mencapai Rp85 triliun, disebut-sebut berpotensi menggeser posisi Elon Musk sebagai orang terkaya sejagat raya. Sebuah prediksi yang memantik rasa penasaran banyak pihak, mengingat reputasi Saylor sebagai salah satu "raja" Bitcoin.
Saylor dikenal luas sebagai pendiri MicroStrategy, perusahaan yang kini lebih sering disebut Strategy. Awalnya, Strategy berfokus pada pengembangan perangkat lunak analitik data dan business intelligence (BI). Produk-produk mereka dirancang untuk membantu korporasi menganalisis data besar demi pengambilan keputusan strategis. Fungsionalitasnya meliputi pembuatan dashboard data perusahaan, analisis penjualan dan keuangan, pemantauan kinerja bisnis secara real-time, pengelolaan data pelanggan, hingga mendukung strategi pemasaran dan operasional.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Strategy telah bertransformasi secara drastis menjadi raksasa investasi Bitcoin. Perusahaan ini sangat agresif dalam mengakuisisi Bitcoin, bahkan menggunakan kas perusahaan dan pinjaman untuk menimbun aset kripto ini dalam jumlah fantastis. Tidak mengherankan jika Strategy kini tercatat sebagai perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia. Berdasarkan data BitcoinTreasuries.net, situs pemantau kepemilikan Bitcoin, Strategy memiliki sekitar 818 ribu koin Bitcoin per data terkini, jauh melampaui perusahaan publik lainnya.
Ambisi Saylor dalam Bitcoin inilah yang memicu prediksi kontroversial. Veteran dunia kripto, Samson Mow, meramalkan bahwa kekayaan Saylor akan melampaui Bos Tesla, Elon Musk, jika harga Bitcoin berhasil menembus angka US$4,2 juta per koin. Prediksi Mow didasarkan pada kepemilikan pribadi Saylor yang mencapai 17.732 Bitcoin, yang diungkapkan dalam pengungkapan publik terakhirnya. Ditambah lagi, Saylor memegang sekitar 9,9 persen saham di Strategy, yang saat ini memegang lebih dari 800 ribu Bitcoin.
Meski demikian, tidak semua pakar kripto sependapat dengan Mow. Analisisnya dianggap terlalu bergantung pada asumsi dan kurang memperhitungkan potensi pertumbuhan kekayaan bersih Musk di masa depan dari proyek-proyek ambisiusnya yang ambisius, termasuk Dyson Swarm. Forbes sendiri memperkirakan kekayaan Saylor saat ini sekitar US$4,8 miliar atau setara Rp85 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.698). Sementara itu, kekayaan Musk diprediksi jauh lebih besar, mencapai US$827,7 triliun atau sekitar Rp14.637 triliun.
Michael Saylor lahir di Lincoln, Nebraska, AS, pada 4 Februari 1965. Masa kecilnya dihabiskan berpindah-pindah mengikuti tugas ayahnya yang seorang perwira senior angkatan udara AS. Pada tahun 1983, ia berhasil masuk Massachusetts Institute of Technology (MIT) dengan beasiswa penuh dari Air Force Reserve Officers’ Training Corps (ROTC). Di MIT, ia mengambil dua jurusan sekaligus: teknik aeronautika dan astronautika, serta sejarah sains. Di sana, ia juga bertemu Sanju Bansal, yang kelak menjadi rekan pendiri MicroStrategy. Sayangnya, impiannya menjadi pilot kandas karena terganjal masalah medis.
Setelah lulus, Saylor memulai karirnya di The Federal Group pada 1987, fokus pada pemodelan simulasi komputer untuk perusahaan integrasi perangkat lunak. Setahun kemudian, ia bergabung dengan DuPont sebagai konsultan internal, di mana ia mengembangkan model komputer untuk memprediksi perubahan pasar. Dari tabungan gajinya di DuPont, Saylor bersama Sanju Bansal mendirikan MicroStrategy pada tahun 1989. Awalnya sebagai perusahaan perangkat lunak data mining, MicroStrategy kemudian beralih fokus ke business intelligence. Salah satu kontrak besar mereka adalah dengan McDonald’s pada 1992 senilai US$10 juta untuk membuat aplikasi analisis efektivitas promosi perusahaan.
Puncak karir awal MicroStrategy terjadi pada tahun 1998 ketika Saylor membawanya melantai di bursa saham. Penawaran saham perdana sebanyak 4 juta lembar dengan harga US$12 per saham disambut antusias, melesat dua kali lipat pada hari pertama perdagangan. Prestasi Saylor juga diakui berbagai institusi: KPMG menobatkannya sebagai "Washington High-Tech Entrepreneur of the Year" pada 1996, dan Ernst & Young memilihnya sebagai "Software Entrepreneur of the Year" setahun kemudian. MIT Technology Review juga memasukkannya dalam daftar "Innovator Under 35" pada 1999. Selain memimpin bisnis, Saylor juga seorang penulis buku best-seller New York Times, The Mobile Wave: How Mobile Intelligence Will Change Everything, dan pendiri platform pendidikan gratis Saylor.org pada 2008, menunjukkan kepeduliannya pada sektor pendidikan.


