faktual.news – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengambil langkah tak biasa demi memastikan denyut nadi perekonomian masyarakat. Ia secara aktif menugaskan jajaran stafnya untuk terjun langsung ke berbagai pasar, mengamati geliat transaksi dan kondisi riil di lapangan. Tak hanya mengandalkan laporan tim, Purbaya sendiri mengaku rutin blusukan ke pasar-pasar tradisional untuk merasakan langsung atmosfer ekonomi.
Dalam sebuah perbincangan di kanal YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo, Kamis (2/7), Purbaya menjelaskan urgensi pendekatan langsung ini. "Saya kan sering jalan-jalan tuh ke pasar-pasar. Bagus juga. Terus kalau kita jalan Sabtu Minggu aja dimana-mana kan masih masyarakat pada belanja," ungkapnya. Menyadari keterbatasan untuk menjangkau seluruh pasar di Nusantara, ia pun mendelegasikan tugas pengawasan ini kepada anak buahnya. "Enggak mungkin saya ke semua pasar, kan? Jadi saya ambil titik-titik yang ini dan saya sebar anak buah saya juga. Saya suruh lihat gimana keadaan sih. Masih rame enggak? Masih rame," imbuhnya.

Laporan yang diterima Purbaya dari timnya menunjukkan gambaran yang cukup positif. Aktivitas ekonomi di sejumlah daerah masih terlihat bergeliat. "Jogja macet, Surabaya macet, pasarnya di sini macet," ujarnya, mengindikasikan kepadatan lalu lintas dan keramaian di pusat-pusat perbelanjaan.
Meski demikian, Purbaya mengakui bahwa ada sebagian masyarakat yang mungkin belum merasakan kebahagiaan ekonomi sesuai harapan. Namun, ia dengan tegas menepis anggapan bahwa Indonesia sedang menuju jurang krisis ekonomi. "Jadi enggak benar kalau orang bilang angka ekonomi bagus, tapi kehidupan sehari-hari susah. Mungkin belum sesenang yang mereka harapkan," tegasnya.
Purbaya juga sebelumnya telah menegaskan bahwa situasi ekonomi Indonesia saat ini jauh berbeda dari krisis parah tahun 1997-1998. Walaupun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat mengalami pelemahan, ia meyakini fondasi ekonomi dan fiskal negara tetap kuat. "Yang penting gini, kita tidak sedang menuju keadaan seperti (krisis) 1997-1998 lagi. Fiskal kita baik, ekonominya bagus," ujarnya di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (6/6).
Menurutnya, tekanan yang terjadi belakangan ini lebih disebabkan oleh sentimen-sentimen negatif yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. "Hanya ada sedikit negatif yang mengganggu sedikit terhadap nilai tukar," jelas Purbaya. Ia optimistis, pelemahan rupiah ini dapat diatasi melalui koordinasi yang solid antara pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan, dengan Bank Indonesia.


