faktual.news – Istana Kepresidenan Jakarta menjadi saksi pertemuan penting antara Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman baru-baru ini. Agenda utama diskusi tersebut adalah strategi antisipasi menghadapi ancaman fenomena El Nino yang diprediksi akan menguat, serta memastikan ketersediaan pangan nasional tetap terjaga. Usai pertemuan, Mentan Amran memberikan pernyataan menenangkan, menegaskan bahwa pasokan pangan Indonesia saat ini berada dalam kondisi aman.
Dalam rapat tersebut, Presiden Prabowo menekankan pentingnya respons cepat dan terukur. Beliau menginstruksikan percepatan langkah mitigasi di berbagai wilayah yang mulai merasakan dampak kekeringan. Arahan konkret mencakup optimalisasi program pompanisasi, perbaikan menyeluruh jaringan irigasi, serta implementasi berbagai inisiatif lain demi menjamin pasokan air vital bagi lahan pertanian. "Bapak Presiden meminta agar daerah-daerah kering segera diantisipasi dengan pompanisasi dan perbaikan irigasi," ungkap Amran.

Meskipun demikian, Amran Sulaiman melaporkan bahwa pemerintah telah mengidentifikasi sekitar 35 ribu hektare lahan pertanian yang terdampak El Nino. Angka ini, menurutnya, masih tergolong kecil dan diyakini tidak akan menggoyahkan ketahanan pangan nasional. Keyakinan ini didasari oleh cadangan pangan yang kuat, yang meliputi hasil panen padi yang sedang tumbuh (standing crop), stok beras di sektor perhotelan, restoran, dan katering (horeka), serta cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog.
Total cadangan pangan ini mencapai angka fantastis 26 juta ton, sebuah volume yang diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan hingga sepuluh bulan ke depan. Jumlah ini bahkan diyakini cukup untuk melewati periode panen raya yang biasanya jatuh pada Maret tahun depan. Amran juga membandingkan kondisi stok beras pemerintah saat ini dengan tahun 2023, di mana cadangan kini jauh lebih melimpah. "Stok kita sekarang mencapai 5 juta ton, jauh berbeda dengan tahun 2023 yang hanya sekitar 1 juta ton, bahkan pernah 500 ribu ton," jelasnya, memberikan jaminan kuat.
Di sisi lain, ancaman El Nino tidak bisa dianggap remeh. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengindikasikan bahwa fenomena iklim ini menunjukkan kekuatan signifikan dan berpotensi terus menguat sepanjang tahun. Kondisi ini berpotensi besar mengurangi curah hujan di banyak wilayah, memicu risiko kekeringan yang lebih parah. Bahkan, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dari Amerika Serikat memprediksi El Nino bisa berlanjut hingga awal tahun 2027. Beberapa ahli bahkan memperkirakan El Nino tahun ini dapat berevolusi menjadi "Super El Nino", membawa dampak yang lebih luas terhadap sektor pertanian, ketersediaan air bersih, hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan. BMKG secara khusus mengingatkan bahwa El Nino dapat menghambat pertumbuhan tanaman, menurunkan produktivitas, dan meningkatkan potensi gagal panen akibat defisit air. Namun, dengan arahan tegas dari Presiden dan langkah antisipasi yang telah disiapkan, pemerintah optimistis dapat menghadapi tantangan iklim ini.


