Faktual.news – Pasar modal Indonesia harus menutup pekan ini dengan catatan yang kurang menyenangkan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan Jumat (25/9) sore, yang mengakibatkan rontoknya nilai indeks secara signifikan di penghujung sesi.
Berdasarkan data pasar terbaru, IHSG terpantau mendarat di level 6.241. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 56,7 poin atau setara dengan koreksi sebesar 0,90 persen jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya. Penurunan ini memberikan sentimen negatif bagi para investor yang tengah menantikan stabilitas pasar di akhir pekan.

Aktivitas perdagangan di bursa menunjukkan volume yang cukup masif. Mengacu pada data RTI Infokom, total nilai transaksi yang terjadi mencapai Rp9,43 triliun. Adapun volume perdagangan saham tercatat berada di angka sekitar 33,23 miliar lembar saham, dengan frekuensi transaksi yang menyentuh angka 1,63 juta kali.
Dominasi warna merah sangat terlihat pada papan perdagangan hari ini. Dari total emiten yang bergerak, sebanyak 558 saham mengalami penurunan harga atau terkoreksi. Di sisi lain, hanya terdapat 118 saham yang mampu mencatatkan penguatan, sementara 117 saham lainnya bergerak stagnan tanpa perubahan harga yang berarti.
Jika menilik pergerakan sektoral, tekanan jual terlihat merata di hampir seluruh lini. Menariknya, meskipun mayoritas sektor mengalami tekanan, sektor industri menjadi yang paling terdampak dengan penurunan tajam mencapai 2,3 persen. Hal ini menunjukkan adanya sentimen negatif yang cukup kuat pada sektor-sektor pendukung ekonomi nasional.
Kondisi IHSG yang melemah ini juga tidak lepas dari dinamika pasar global yang bergerak bervariasi. Di kawasan Asia, bursa Hong Kong melalui indeks Hang Seng Composite tercatat merosot 1,01 persen, disusul oleh indeks Shanghai Composite di China yang melemah 1,22 persen. Namun, Jepang memberikan kabar baik melalui indeks Nikkei 225 yang justru menguat 1,30 persen, serta indeks Straits Times di Singapura yang naik tipis 0,51 persen.
Sementara itu, bursa di benua Eropa menunjukkan performa yang lebih solid dan kompak menguat. Indeks DAX di Jerman naik sebesar 0,93 persen, diikuti oleh indeks FTSE 100 di Inggris yang tumbuh 0,60 persen.
Kondisi berbeda terlihat di Amerika Serikat, di mana pasar cenderung didominasi oleh pergerakan negatif. Indeks S&P 500 melemah tipis 0,02 persen, sementara indeks Dow Jones mengalami penurunan sebesar 0,31 persen. Di tengah fluktuasi tersebut, indeks NASDAQ Composite justru mencatatkan kenaikan sangat tipis sebesar 0,01 persen.
Para pelaku pasar kini tengah mencermati arah kebijakan ekonomi global dan kondisi domestik guna menentukan strategi investasi mereka untuk menghadapi pembukaan pasar pada pekan depan.


