faktual.news – Harga minyak mentah dunia mendadak anjlok drastis Rabu kemarin, meluncur bebas di bawah level 100 dolar AS per barel. Penurunan mengejutkan ini dipicu oleh kabar gembira dari Arab Saudi yang mulai menormalisasi aliran pasokan minyaknya melalui jalur pipa vital menuju Laut Merah. Tak hanya itu, optimisme pasar juga menguat seiring munculnya sinyal-sinyal positif dari perundingan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York.
Minyak mentah jenis Brent tercatat merosot 7 sen atau 0,07 persen, bertengger di angka 99,18 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga tak luput dari tekanan, anjlok 35 sen atau 0,39 persen menjadi 90,17 dolar AS per barel. Penurunan ini melanjutkan tren sebelumnya, di mana Brent sudah lebih dulu ditutup di bawah 100 dolar AS per barel pada Selasa, menandai pertama kalinya sejak 8 September.

Pemulihan operasi pipa East-West oleh Arab Saudi menjadi salah satu faktor kunci. Jalur distribusi strategis ini sebelumnya terpaksa ditutup pasca-serangan drone pada 11 September lalu, yang menghentikan kegiatan pemuatan minyak mentah di pelabuhan Yanbu. Pipa tersebut memiliki peran krusial bagi Saudi, mengalihkan sekitar 4 juta barel minyak per hari menuju Yanbu, atau setara dengan empat persen dari total pasokan minyak global. Pengalihan ini dilakukan untuk menghindari Selat Hormuz yang kerap terganggu akibat konflik antara AS dan Iran.
Selain dari Saudi, potensi peningkatan pasokan juga datang dari Irak. Menteri Perminyakan Irak, Basim Mohammed, menyatakan bahwa negaranya kini mengekspor lebih dari 3 juta barel minyak setiap hari dan menargetkan peningkatan ekspor melalui Turki hingga melampaui 600 ribu barel per hari.
Di sisi lain, tekanan terhadap harga minyak juga datang dari dalam negeri Amerika Serikat. Data industri menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS justru mengalami kenaikan sebesar 1,8 juta barel pada pekan yang berakhir 18 September. Angka ini mengejutkan banyak pihak, mengingat analis sebelumnya memprediksi adanya penurunan stok pada periode tersebut.
Pasar juga menanggapi positif harapan penyelesaian konflik AS-Iran melalui jalur perundingan. Presiden AS Donald Trump bahkan mengungkapkan bahwa utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah melakukan pembicaraan yang produktif dengan mediator dari Iran.
Menanggapi dinamika ini, Kepala Analis KCM Trade, Tim Waterer, menyoroti perubahan sentimen pasar. "Pasar saat ini merasa lebih konstruktif terhadap prospek pasokan minyak global dibandingkan beberapa pekan lalu," ujarnya, mengindikasikan adanya optimisme baru terkait ketersediaan minyak di pasar global.


