Faktual News – Pasar modal Indonesia menghadapi tekanan signifikan pada penutupan perdagangan Jumat, 13 Februari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus rela ditutup di zona merah, melemah 0,64 persen ke level 8.212,27, dari posisi sebelumnya 8.265,35. Ini menandai hari yang kurang menguntungkan bagi investor di bursa, dengan sentimen negatif yang meluas.
Pelemahan ini tidak hanya menimpa IHSG. Hampir seluruh indeks utama di dalam negeri juga menunjukkan tren serupa. Indeks IDX30 tercatat turun 0,91 persen menjadi 431,88, sementara LQ45 merosot lebih dalam sebesar 1,16 persen ke angka 829,67. Tak ketinggalan, Indeks Saham Syariah Indonesia (JII) melemah 0,94 persen menjadi 564,31, dan Sri-Kehati juga terkoreksi 0,93 persen ke posisi 389,00. Kondisi ini mengindikasikan adanya aksi jual yang cukup masif di berbagai sektor.
Sektor perbankan, yang kerap menjadi tulang punggung pasar, juga tak luput dari sentimen negatif. Indeks INFOBANK15, yang merupakan barometer kinerja 15 saham perbankan pilihan dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi, turut mencatat penurunan 0,56 persen, berakhir di level 1.020,91. Ini menunjukkan bahwa tekanan jual melanda hampir semua segmen pasar, termasuk saham-saham bank papan atas.
Secara rinci, mayoritas saham bank yang tergabung dalam indeks INFOBANK15 mengalami pergerakan negatif, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap sektor finansial di tengah gejolak global maupun domestik. Namun, di tengah gelombang koreksi, ada tiga saham perbankan yang berhasil menunjukkan ketahanan dengan mencatat penguatan, menjadi penyeimbang di hari yang lesu ini. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi satu-satunya saham yang berhasil mempertahankan posisinya, stagnan di harga Rp5.075, menunjukkan stabilitas relatif di tengah gejolak pasar yang menekan.
