Faktual News Perdagangan sesi pertama Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Jumat (3/6), ditutup kurang menggembirakan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah, tepatnya pada level 7.064,21. Meskipun dibuka sedikit lebih tinggi di angka 7.065,06, IHSG menunjukkan pergerakan fluktuatif sepanjang sesi, bahkan sempat menyentuh level terendah 6.994,15 sebelum akhirnya ditutup melemah tipis 0,01 persen.
Data dari faktual.news menunjukkan aktivitas perdagangan yang cukup tinggi. Sebanyak 15,34 miliar saham diperdagangkan dengan frekuensi transaksi mencapai 737 ribu kali. Nilai transaksi total tercatat mencapai angka yang signifikan, yaitu Rp8,36 triliun. Namun, di balik angka-angka tersebut, tersimpan dinamika yang menarik.

Dari 799 saham yang diperdagangkan, 317 saham mengalami koreksi, sementara 272 saham lainnya menguat. Sisanya, 212 saham, stagnan. Dominasi pelemahan terlihat jelas pada beberapa sektor unggulan. Sektor industri memimpin penurunan dengan koreksi 1,16 persen, disusul sektor teknologi (-0,92 persen), infrastruktur (-0,50 persen), dan kesehatan (-0,49 persen). Sektor siklikal dan non-siklikal juga ikut tertekan, masing-masing melemah 0,42 persen dan 0,18 persen. Bahkan sektor keuangan ikut terkoreksi 0,11 persen.
Namun, bukan berarti seluruh sektor mengalami penurunan. Sektor transportasi justru menunjukkan kinerja positif dengan kenaikan 1,20 persen. Sektor energi dan bahan baku juga ikut menguat, masing-masing naik 0,69 persen dan 0,27 persen. Sektor properti pun mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,04 persen.
Menariknya, pergerakan IHSG ini berbanding terbalik dengan tren bursa saham Asia. Hang Seng Index Hong Kong melonjak 1,11 persen, Shanghai Composite Index naik 0,48 persen, dan Nikkei 225 Jepang juga menguat 0,05 persen. Kontras ini menimbulkan pertanyaan: apa yang sebenarnya terjadi di pasar saham domestik? Analisis lebih lanjut tentu diperlukan untuk memahami dinamika pasar yang lebih dalam.
