Faktual News – Pekan lalu menjadi periode yang menggembirakan bagi pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan kinerja impresif, melonjak signifikan sebesar 3,49 persen dalam rentang waktu 9-13 Februari 2026. Penguatan ini membawa IHSG menutup perdagangan pada level 8.212,27, jauh melampaui posisi penutupan pekan sebelumnya di 7.935,26. Kenaikan ini tak hanya sekadar angka, namun juga merefleksikan optimisme investor yang kembali bergairah. Seiring dengan lonjakan indeks, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) turut melonjak sebesar 3,83 persen, menembus angka Rp14.889 triliun dari Rp14.341 triliun pada sepekan sebelumnya.
Performa cemerlang IHSG ini merupakan kelanjutan dari tren positif yang berhasil dipertahankan. Lonjakan kapitalisasi pasar sebesar 3,83 persen ini mengindikasikan peningkatan kepercayaan dan minat investor terhadap aset-aset di bursa domestik, yang berpotensi menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Di balik performa apik IHSG, BEI mengidentifikasi adanya lima saham unggulan (top leaders) yang menjadi motor penggerak utama penguatan tersebut. Sayangnya, rincian spesifik mengenai emiten-emiten yang masuk dalam daftar ‘top leaders’ ini belum dipublikasikan secara detail dalam rilis yang diterima Faktual News . Namun, keberadaan saham-saham pendorong ini menegaskan bahwa kenaikan IHSG didukung oleh fundamental yang kuat pada sektor-sektor tertentu, menarik perhatian investor domestik maupun asing.
Aktivitas perdagangan di bursa juga menunjukkan peningkatan yang signifikan. Volume transaksi harian tercatat melonjak 4,73 persen, mencapai 45,24 miliar lembar saham dari 43,20 miliar lembar pada pekan sebelumnya. Frekuensi transaksi harian pun tak ketinggalan, naik tipis 0,37 persen, menjadi 2,74 juta kali transaksi dari 2,73 juta kali transaksi pada pekan lalu. Peningkatan ini menandakan pasar yang lebih aktif dan likuid.
Kendati demikian, di tengah optimisme yang menyelimuti, ada satu indikator yang menunjukkan sedikit kontraksi. Rata-rata nilai transaksi harian BEI justru mengalami penurunan sebesar 6,27 persen, tergerus menjadi Rp23,20 triliun dari Rp24,75 triliun pada pekan sebelumnya. Fenomena ini mungkin mengindikasikan adanya pergeseran strategi investor atau preferensi terhadap saham dengan valuasi yang lebih rendah. Ditambah lagi, investor asing masih menunjukkan sikap hati-hati. Pada penutupan Jumat (13/2), mereka mencatatkan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp2,03 triliun. Secara kumulatif sepanjang tahun 2026, total net sell investor asing telah mencapai angka Rp16,49 triliun, sebuah angka yang patut dicermati oleh para pelaku pasar.
