Faktual News Awal Juni 2025 menyajikan drama di bursa saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan wajah merah, merosot ke level 7.136,10. Turun 0,55 persen dari penutupan sebelumnya di 7.175,81, pergerakan ini terjadi tepat pukul 09.00 WIB. Data RTI Business mencatat transaksi cukup aktif; 985,10 juta saham diperdagangkan dengan frekuensi 55 ribu kali, menghasilkan nilai transaksi Rp1,56 triliun. Kondisi ini terlihat dari 130 saham yang terkoreksi, berbanding 191 saham menguat dan 280 saham stagnan.
Ratih Mustikoningsih, Financial Expert Ajaib Sekuritas, telah memprediksi pergerakan IHSG yang variatif di rentang 7.090 hingga 7.220. Prediksi ini disampaikan dalam risetnya di Jakarta, 2 Juni 2025. Ia mencatat koreksi IHSG di akhir Mei 2025 sebagai sentimen domestik. Namun, secara keseluruhan, IHSG masih menorehkan kinerja positif sepanjang Mei, naik 6,04 persen, melanjutkan tren positif April (3,93 persen).

Aliran modal asing (inflow) ke pasar ekuitas domestik tercatat cukup signifikan, mencapai Rp5,4 triliun sepanjang Mei 2025. Investor asing tampak mengakumulasi saham perbankan besar (Big Banks), seiring dengan penurunan suku bunga BI-Rate sebesar 25 bps. Penurunan nilai dolar AS sebesar 4,5 persen sejak awal April dan deeskalasi tarif impor AS-Tiongkok juga memberikan dampak positif pada inflow di pasar ekuitas negara berkembang.
Namun, bayang-bayang pelemahan juga terlihat dari indeks PMI manufaktur domestik Mei 2025 yang berada di level kontraksi 47,4 (bulan sebelumnya 46,7). Aktivitas industri masih lesu akibat penurunan permintaan dan ekspor, serta kenaikan biaya input.
Di kancah global, Indeks S&P 500 tercatat apresiasi 6,15 persen sepanjang Mei 2025, didorong oleh gencatan senjata perdagangan (trade truce) antara AS dan Tiongkok selama 90 hari sejak 12 Mei 2025. Inflasi AS yang terkendali di angka 2,3 persen (yoy) pada April 2025 juga memberikan sentimen positif menjelang pertemuan FOMC pada 17-18 Juni. Sementara itu, indeks PMI manufaktur Tiongkok versi BPS masih berada di level kontraksi 49,5 pada Mei 2025. Pemerintah Tiongkok berupaya mendorong konsumsi domestik dengan memangkas suku bunga jangka pendek dan menengah sebesar 10 bps.
(*)
