"Di tengah dinamika harga minyak dunia yang terus merangkak naik, kami pemerintah berkomitmen, sesuai arahan Bapak Presiden, untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi. Ini termasuk juga untuk elpiji 3 kg," ungkap Bahlil dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat.
Namun, kondisi berbeda berlaku untuk BBM non-subsidi. Bahlil menjelaskan bahwa sesuai Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 11 Tahun 2022, harga BBM non-subsidi akan selalu mengikuti pergerakan harga minyak internasional. Artinya, konsumen yang menggunakan BBM non-subsidi harus siap dengan fluktuasi harga pasar.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri turut memberikan penjelasan mengenai penyesuaian harga BBM non-subsidi. Ia membeberkan alasan di balik kenaikan harga Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95 (RON 95) yang terjadi baru-baru ini. Harga Pertamax melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Simon menegaskan, koreksi harga ini merupakan respons terhadap dinamika geopolitik global dan pergerakan harga minyak di pasar internasional. "Penyesuaian harga BBM non-subsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan situasi geopolitik global serta harga minyak yang berlaku di pasar internasional, namun tetap dengan memperhatikan kemampuan daya beli masyarakat," jelas Simon melalui akun Instagram resmi Pertamina.
Meski demikian, Simon kembali memastikan bahwa harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap stabil. Harga Pertalite dipertahankan pada Rp10.000 per liter dan Biosolar pada Rp6.800 per liter, sesuai dengan ketetapan pemerintah.
Perseroan menyadari bahwa setiap perubahan harga BBM selalu menjadi sorotan publik. Simon menambahkan, penyesuaian harga tidak hanya dilakukan oleh SPBU milik Pertamina, tetapi juga oleh sejumlah operator SPBU swasta lainnya, menunjukkan bahwa ini adalah respons pasar yang lebih luas terhadap kondisi global.
BBM Subsidi Aman Pertamax Meroket Tajam

