faktual.news – Di tengah gemuruh Sungai Batang Buat yang tak pernah berhenti, Desa Lubuk Beringin di Kabupaten Bungo, Jambi, menyimpan sebuah kisah inspiratif. Udara sejuk dan dingin yang memeluk desa ini seolah menjadi saksi bisu transformasi luar biasa. Dari yang semula dicap sebagai desa tertinggal, kini Lubuk Beringin menjelma menjadi model kemakmuran, berkat sebuah rahasia yang tersembunyi di balik hijaunya belantara: cuan karbon. Bakian, seorang sesepuh berusia 65 tahun, adalah salah satu saksi hidup perjalanan panjang ini.
Bakian, dengan peci putih dan jaket biru-oranye yang mencolok di antara pepohonan, selalu menolak label kemiskinan yang pernah disematkan pada desanya. "Bagi kami yang hidup di pinggir hutan, kami bukan miskin, tapi sejahtera," ujarnya suatu kali. Keyakinan itu berakar pada kemampuan warga memanfaatkan alam sebagai sumber kehidupan, jauh dari polusi zat kimia.

Namun, jalan menuju kemakmuran ini tidak selalu mulus. Bakian masih ingat betul masa kelam ketika kerusakan hutan mengancam. Saat krisis ekonomi melanda Indonesia, banyak orang, termasuk warga sekitar, berbondong-bondong masuk hutan untuk mencari rotan manau secara masif. Eksploitasi berlebihan itu berujung pada bencana. Banjir melanda saat musim hujan, sementara kekeringan parah terjadi di musim kemarau. Sungai Batang Buat, urat nadi kehidupan desa, tercemar hingga tak layak konsumsi, memaksa warga menggali sumur darurat.
Peristiwa pilu itu menjadi titik balik. Kesadaran kolektif muncul, mendorong warga untuk bersatu menjaga hutan. Berbagai aturan disepakati, mulai dari larangan pembukaan lahan di area curam, menjaga hulu sungai, hingga melarang penangkapan ikan dengan racun. Kesepakatan ini, yang terus dijaga hingga kini, perlahan membuahkan hasil.
Sungai kembali jernih, udara tetap segar, keseimbangan musim terjaga, dan yang paling membanggakan, Lubuk Beringin mencapai swasembada pangan sejak tahun 2004. Namun, manfaat ekonomi yang tak terduga masih menanti.
Awalnya, konsep perdagangan karbon terdengar asing dan membingungkan bagi Bakian dan warga lainnya. Bagaimana mungkin sesuatu yang tak kasat mata seperti karbon bisa bernilai ekonomi? Bahkan, Jupri, Kepala Desa Lubuk Beringin, mengenang bagaimana Bupati Muara Bungo pun sempat melontarkan candaan, "Berapa banyak karbon? Berapa truk? Saya siapkan truk untuk mengangkut karbon!"
Seiring waktu, misteri itu terkuak. Hutan yang lestari ternyata menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar. Nilai inilah yang kemudian diperdagangkan melalui skema karbon, memberikan imbal jasa kepada masyarakat atas upaya mereka menjaga kelestarian hutan.
Penantian panjang warga akhirnya terbayar pada tahun 2018. Lubuk Beringin menerima dana imbal jasa lingkungan dari perdagangan karbon untuk pertama kalinya, sebesar sekitar Rp40 juta. Angka ini terus meroket, mencapai Rp200 juta per tahun. Dana tersebut, melalui musyawarah desa, dialokasikan untuk berbagai kepentingan bersama: mendukung Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), Karang Taruna, pendidikan, hingga program-program sosial lainnya. Kisah Lubuk Beringin menjadi bukti nyata bahwa menjaga alam adalah investasi terbaik bagi masa depan.


