Faktual News Penutupan perdagangan saham di Indonesia pada 2 Juni 2025 meninggalkan jejak merah yang cukup dalam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles ke posisi 7.065,06, menukik tajam 1,54 persen dari posisi pembukaan di angka 7.175,81. Data dari faktual.news menunjukkan sebuah pemandangan yang cukup menyedihkan: 453 saham memerah, sementara hanya 195 saham yang menghijau. Sisanya, 161 saham, stagnan. Total volume perdagangan mencapai 26,40 miliar saham dengan frekuensi transaksi 1,44 juta kali, menghasilkan nilai transaksi yang cukup fantastis, yaitu Rp22,23 triliun.
Bukan hanya IHSG yang tertekan. Seluruh indeks domestik kompak melemah. IDX30 anjlok 2,35 persen ke level 416,07, LQ45 menyusut 2,31 persen menjadi 795,95, JII merosot 0,65 persen ke 483,00, dan Sri-Kehati tergelincir 2,35 persen ke 371,39. Kondisi ini mencerminkan sentimen pasar yang kurang kondusif.

Dominasi warna merah juga terlihat di hampir semua sektor. Sektor keuangan terpukul cukup keras dengan penurunan 1,80 persen, disusul sektor transportasi (-1,50 persen), teknologi (-1,30 persen), industri (-1,27 persen), dan properti (-1,16 persen). Sektor infrastruktur (-0,97 persen), siklikal (-0,80 persen), kesehatan (-0,54 persen), energi (-0,46 persen), dan non-siklikal (-0,34 persen) juga turut merasakan tekanan. Satu-satunya sektor yang masih bertahan di zona hijau adalah sektor bahan baku, yang menguat 0,59 persen, didorong oleh kenaikan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar 6,75 persen.
Di tengah gejolak ini, beberapa saham mencuri perhatian. PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS), PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN), dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) menjadi top gainers. Di sisi lain, PT Ulima Nitra Tbk (UNIQ), PT Unggul Indah Cahaya Tbk (UNIC), dan PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) masuk dalam daftar top losers. Adapun, tiga saham yang paling aktif diperdagangkan adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Pergerakan ini tentu menjadi sorotan bagi para investor dan analis pasar modal.
