Faktual News – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini melontarkan pernyataan mengejutkan terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.700 per dolar AS. Menurut Purbaya, gejolak mata uang Garuda tidak semata-mata dipicu oleh fundamental ekonomi, melainkan juga oleh derasnya sentimen negatif yang beredar di media sosial, khususnya platform TikTok.
Purbaya mengungkapkan bahwa narasi yang menyebut ekonomi Indonesia sedang menuju krisis layaknya tahun 1997-1998 banyak berseliweran di TikTok. "Mereka bilang menuju krisis 97-98. Banyak yang bilang gitu kan di TikTok. Saya sekarang terpaksa lihat TikTok deh karena yang lain juga lihat TikTok. Rupiah to some extent dipengaruhi TikTok juga kelihatannya tuh. Jelek-jelekin terus," keluhnya dalam konferensi pers APBN Kita di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa lalu. Ia menilai, persepsi publik yang terbentuk dari narasi-narasi tersebut turut memengaruhi pergerakan rupiah.

Namun, di tengah hiruk-pikuk sentimen negatif tersebut, Purbaya dengan tegas menepis anggapan bahwa ekonomi Indonesia sedang dalam kondisi terpuruk. Ia justru membeberkan data-data penerimaan pajak yang menunjukkan gambaran sebaliknya: ekonomi domestik masih kuat dan resilien.
Hingga April 2024, penerimaan pajak tercatat melonjak 16 persen secara tahunan. Kenaikan ini, menurut Purbaya, sejalan dengan pertumbuhan aktivitas ekonomi dan semakin optimalnya implementasi sistem Coretax. Data ini menjadi indikator vital bahwa roda perekonomian masih berputar kencang.
Salah satu poin menarik yang disoroti Purbaya adalah kenaikan Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi dan PPh 21 yang mencapai 25,1 persen. "Ini kan yang menarik PPh orang pribadi dan PPh 21 kan. Ini pajak penghasilan kan, gaji karyawan. Tumbuhnya 21 persen berarti kan kuat," ujarnya. Angka ini menjadi cerminan langsung bahwa daya beli masyarakat masih terjaga dan pendapatan karyawan tetap solid.
Tak hanya itu, pertumbuhan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) juga mencatatkan angka fantastis, yakni hingga 40,2 persen. Purbaya menegaskan, "Ini PPN dan PPnBM yang naik tumbuhnya 40 persen menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi memang masih tinggi karena belanja dan segalanya masih tinggi tuh." Kenaikan signifikan ini mengindikasikan geliat konsumsi dan belanja masyarakat yang masih tinggi, jauh dari tanda-tanda perlambatan ekonomi.
Seluruh data ini, menurut Purbaya, secara telak membantah tuduhan yang menyebut ekonomi Indonesia tengah mengalami perlambatan signifikan atau bahkan menuju krisis. Mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu meyakini bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh, terlepas dari riuhnya sentimen di media sosial.


