Faktual.news – Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melakukan terobosan besar dalam memperkuat ekosistem keuangan berkelanjutan di tanah air. Langkah terbaru diambil dengan meresmikan peluncuran Indonesia ESG Bond Index. Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara BEI dengan PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) guna memperluas cakupan investasi berbasis prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola.
Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, menegaskan bahwa kehadiran indeks baru ini bukan sekadar pelengkap, melainkan sebuah komitmen nyata dalam memperkokoh struktur pasar utang di Indonesia. Dengan adanya indeks ini, diharapkan akan muncul berbagai produk investasi baru yang lebih variatif, khususnya di sektor pendapatan tetap (fixed income).

"Kami berharap indeks baru ini dapat menjadi fondasi kuat bagi lahirnya instrumen investasi baru, seperti reksa dana pendapatan tetap yang berbasis pada indeks ESG. Semakin beragam pilihan produk yang tersedia, maka partisipasi investor dalam mendukung pembiayaan berkelanjutan pun akan semakin meluas," ungkap Iding dalam acara peluncuran yang berlangsung di Gedung BEI, Jakarta Selatan.
Selama ini, instrumen berbasis ESG memang sudah lebih dulu berkembang di pasar saham. Namun, melalui indeks obligasi ini, BEI ingin memastikan bahwa sektor pasar utang juga memiliki acuan yang terstandarisasi untuk mendukung agenda ekonomi hijau.
Jika menilik rekam jejaknya, pasar modal Indonesia sebenarnya telah menunjukkan performa yang sangat menjanjikan dalam hal pembiayaan berwawasan lingkungan. Data mencatat bahwa sepanjang periode 2018 hingga 2026, akumulasi penerbitan obligasi dan sukuk yang berfokus pada aspek lingkungan, sosial, dan keberlanjutan (green, social, and sustainable bonds) telah menyentuh angka fantastis, yakni Rp89,46 triliun. Dana tersebut dihimpun dari 15 entitas penerbit yang berbeda.
Meski angka tersebut tergolong besar, Iding menekankan bahwa pihak bursa tidak boleh cepat berpuas diri. Menurutnya, potensi pengembangan pasar utang berbasis keberlanjutan masih sangat terbuka lebar dan memiliki ruang pertumbuhan yang masif.
Selain dari sisi instrumen, tren positif juga terlihat dari transparansi korporasi. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 85 persen perusahaan yang tercatat di bursa telah aktif menyampaikan laporan keberlanjutan pada tahun 2025. Bahkan, lebih dari 61 perusahaan yang tergabung dalam indeks IDX-80 telah secara resmi menyatakan komitmen mereka untuk mencapai target net zero emission.
Hingga September 2026, total dana kelolaan (Asset Under Management/AUM) untuk produk-produk ESG di Indonesia, yang mencakup reksa dana indeks hingga Exchange Traded Fund (ETF), telah menembus angka Rp5,85 triliun. Melalui Indonesia ESG Bond Index, BEI mengajak para manajer investasi, lembaga dana pensiun, hingga perusahaan asuransi untuk menjadikan indeks ini sebagai panduan dalam mengambil keputusan investasi yang lebih terukur dan terstruktur.
Tujuan akhirnya adalah menciptakan sinergi di mana perusahaan mendapatkan dukungan pendanaan yang memadai, sementara investor dapat menyalurkan modal mereka ke dalam kegiatan ekonomi yang tidak hanya produktif, tetapi juga ramah terhadap masa depan bumi.


