faktual.news – Presiden Rusia Vladimir Putin akhirnya buka suara mengakui negaranya, produsen minyak raksasa, kini bergelut dengan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Pengakuan mengejutkan ini muncul setelah serangkaian serangan Ukraina yang menargetkan fasilitas energi vital Rusia, memicu kekhawatiran akan krisis di tengah invasi yang berkepanjangan.
Dalam sebuah wawancara yang dirilis Kremlin, Putin tidak menampik bahwa serangan terhadap infrastruktur kritis, khususnya sektor energi, telah menciptakan masalah. "Saat ini, kami memang melihat adanya kekurangan tertentu, namun kondisinya belum sampai pada tahap kritis," ujarnya, mencoba meredakan kekhawatiran publik. Ia menekankan pentingnya memperkuat pertahanan udara Rusia dan menjamin pasokan BBM, terutama untuk wilayah Krimea.

Di tengah tekanan internal, Putin juga mengisyaratkan kemungkinan negosiasi damai dengan Amerika Serikat. Ia memprediksi tim negosiator AS akan bertandang ke Moskow untuk membahas jalan keluar konflik Ukraina, terutama setelah Washington mengalihkan fokus dari isu Iran dan gejolak di Timur Tengah. "Kami siap melanjutkan negosiasi dan membahas seluruh detailnya," tegas Putin, menunjukkan keterbukeran terhadap dialog.
Situasi kelangkaan BBM ini bukan isapan jempol. Jumat lalu, otoritas Krimea terpaksa memberlakukan status darurat menyusul krisis BBM dan pemadaman listrik. Kondisi ini dipicu oleh serangan Ukraina yang menyasar rantai logistik dan fasilitas minyak di semenanjung yang dicaplok Rusia pada tahun 2014 tersebut.
Sebelumnya, dalam pidatonya di kongres partai berkuasa United Russia, Putin telah berjanji akan menjamin keamanan negara dan warganya. Ia menegaskan kesiapan Rusia untuk mengatasi berbagai tantangan, termasuk "serangan teroris" yang semakin intensif di wilayah dan fasilitas infrastruktur Rusia. "Kami tanpa ragu akan mengatasi semua tantangan yang kami hadapi saat ini," ucapnya di hadapan para anggota partai.
Janji tersebut disampaikan hanya beberapa jam setelah serangan drone Ukraina menewaskan satu orang di wilayah selatan Rusia, Krasnodar Krai, dan memicu kebakaran hebat di sebuah kilang minyak. Gubernur setempat, Veniamin Kondratyev, mengonfirmasi insiden tersebut.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sendiri mengklaim serangan-serangan tersebut merupakan bagian dari upaya melemahkan kemampuan Rusia untuk melanjutkan perang. Melalui platform X, Zelenskyy menyebutkan keberhasilan menyerang kilang minyak Slavyansk di Krasnodar, sekitar 300 kilometer dari garis depan, serta kilang di wilayah Yaroslavl yang berjarak 700 kilometer dari perbatasan Ukraina.
Serangan-serangan ini menunjukkan peningkatan kapabilitas Ukraina di medan perang. Namun, di sisi lain, kota-kota Ukraina masih terus menjadi sasaran gempuran mematikan Rusia dalam konflik yang kini telah berlangsung lebih lama dari Perang Dunia I, tanpa tanda-tanda mereda.


