faktual.news – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral ESDM Bahlil Lahadalia memproyeksikan kebutuhan dana fantastis senilai Rp815,56 miliar untuk program kompor listrik yang akan digulirkan pada tahun 2027. Usulan pendanaan ini menjadi bagian krusial dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor gas elpiji yang selama ini membebani neraca perdagangan.
Inisiatif program kompor listrik ini dirancang khusus demi memangkas dominasi impor elpiji, sekaligus memperkaya bauran energi nasional dengan sumber-sumber yang lebih berkelanjutan. "Program kompor listrik ini esensial untuk meminimalkan kebutuhan elpiji. Kami berupaya mendorong diversifikasi energi ke depan, tidak hanya terpaku pada elpiji, melainkan juga kompor listrik, CNG, dan berbagai opsi lain," terang Bahlil dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI di Kompleks Parlemen Jakarta Pusat baru-baru ini.

Selain ambisi kompor listrik, Kementerian ESDM juga mengajukan alokasi anggaran sebesar Rp635,24 miliar untuk program motor listrik. Kedua usulan strategis ini termasuk dalam pagu indikatif Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Ditjen EBTKE, yang secara total mencapai Rp1.509 miliar untuk program infrastruktur.
Dalam pelaksanaannya, Bahlil juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan para anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Ia berharap para wakil rakyat dapat membantu memetakan daerah-daerah potensial yang paling membutuhkan program kompor listrik, guna memastikan efektivitas dan sinkronisasi pelaksanaannya di lapangan.
Secara keseluruhan, Kementerian ESDM mengajukan total anggaran sebesar Rp27,33 triliun untuk tahun 2027. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 26,11 persen dibandingkan pagu anggaran tahun 2026 yang sebesar Rp21,67 triliun. Rinciannya, 82 persen atau Rp22,48 triliun dialokasikan untuk program strategis infrastruktur, 13 persen atau Rp3,56 triliun untuk belanja operasional, dan 5 persen atau Rp1,3 triliun untuk publik non-fisik.


