Faktual News – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, membawa angin segar bagi perekonomian nasional dengan proyeksi optimisnya. Ia dengan yakin memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan kembali menunjukkan taringnya, menguat signifikan mulai periode Juli hingga September 2026. Keyakinan ini muncul di tengah pola pelemahan musiman yang kerap melanda rupiah pada kuartal kedua setiap tahunnya.
Perry menjelaskan, fluktuasi rupiah yang cenderung melemah pada bulan April, Mei, dan Juni merupakan fenomena berulang akibat tingginya permintaan dolar AS. "Jika kita cermati dari tahun ke tahun, rupiah memang umumnya berada di bawah tekanan pada April, Mei, Juni karena tingginya permintaan dolar," ungkap Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5). Meskipun demikian, ia menegaskan optimisme bahwa semester kedua tahun ini akan menjadi titik balik penguatan. "Juli, Agustus akan menguat. Juli, Agustus, September," tambahnya, merujuk pada pola musiman yang diharapkan kembali terjadi.

Dalam konteks yang lebih luas, Perry juga memaparkan asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Di dalamnya, nilai tukar rupiah dipatok pada level Rp16.500 per dolar AS, dengan kisaran bawah Rp16.200 dan kisaran atas Rp16.800. Meskipun mengakui bahwa rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun berjalan saat ini sedikit di atas asumsi tersebut, yakni sekitar Rp16.900, Perry tetap yakin target pemerintah akan tercapai. "Sekarang Rp16.900 year to date. Pengalaman kami kalau April, Mei, Juni memang lagi tinggi, nanti kalau Juli, Agustus, akan menguat," jelasnya. "Sehingga, the whole year (sepanjang tahun) kami masih meyakini nilai tukar akan di dalam kisaran Rp16.200-Rp16.800," tegasnya, menunjukkan kepercayaan pada fundamental ekonomi dan pola musiman yang akan bekerja.
Pada perdagangan Senin (18/5) sore, nilai tukar rupiah tercatat di level Rp17.668 per dolar AS, melemah 71 poin atau 0,40 persen dari perdagangan sebelumnya. Pergerakan ini selaras dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang menunjukkan variasi terhadap dolar AS. Beberapa mata uang seperti Yuan China menguat 0,21 persen, dolar Singapura terapresiasi 0,12 persen, dan won Korea Selatan naik 0,11 persen. Di sisi lain, peso Filipina melemah 0,01 persen, yen Jepang turun 0,09 persen, dan ringgit Malaysia terdepresiasi 0,52 persen. Dolar Hong Kong sendiri bergerak stabil.
Tren serupa juga terlihat pada mata uang utama negara maju. Euro Eropa naik 0,10 persen, poundsterling Inggris menguat 0,31 persen, dolar Australia terapresiasi 0,10 persen, dolar Kanada naik 0,09 persen, serta franc Swiss menguat 0,25 persen terhadap dolar AS. Meskipun dinamika pasar global terus bergerak, BI tetap memegang teguh proyeksinya, memberikan harapan akan stabilitas dan penguatan rupiah di masa mendatang.


