Faktual News – Jakarta. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan volatilitasnya pada sesi perdagangan pertama, Selasa (7/4). Setelah bergerak fluktuatif sepanjang pagi, indeks acuan Bursa Efek Indonesia ini akhirnya ditutup melemah 0,29 persen, mendarat di level 6.989,42. Penurunan ini menandai kelanjutan tren koreksi di tengah sentimen pasar yang masih mencari arah.
Data dari RTI Business mencatat aktivitas perdagangan yang cukup ramai namun didominasi aksi jual. Sebanyak 17,42 miliar saham berpindah tangan melalui 1,12 juta kali transaksi, dengan total nilai mencapai Rp7,23 triliun. Sayangnya, dominasi tekanan jual terlihat jelas dengan 371 saham mengalami koreksi, berbanding 261 saham yang berhasil menguat, sementara 174 saham lainnya tetap stagnan.
Koreksi IHSG tak lepas dari kinerja mayoritas sektor yang ikut terseret ke zona merah. Sektor industrial menjadi yang paling terpukul, anjlok signifikan sebesar 2,12 persen. Disusul oleh sektor non-siklikal yang terkoreksi 1,04 persen, kesehatan 0,76 persen, dan siklikal 0,70 persen. Sektor transportasi juga tak luput dari tekanan dengan penurunan 0,61 persen, teknologi melemah 0,54 persen, bahan baku 0,48 persen, serta properti yang turun 0,44 persen.
Di tengah gelombang merah, beberapa sektor berhasil menunjukkan ketahanan dan mencatatkan penguatan. Sektor energi memimpin dengan kenaikan 0,72 persen, diikuti oleh infrastruktur yang menguat 0,38 persen, dan sektor keuangan yang bertambah 0,32 persen. Kinerja positif ini sedikit meredam tekanan jual yang lebih luas di pasar.
Sentimen dari bursa regional Asia sendiri terpantau beragam, namun mayoritas cenderung menguat. Indeks Nikkei 225 Tokyo naik tipis 0,01 persen dan Shanghai Composite Index Shanghai menguat 0,05 persen. Kontrasnya, Hang Seng Index di Hong Kong justru melanjutkan pelemahan dengan turun 0,70 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan IHSG lebih banyak dipengaruhi oleh faktor domestik pada sesi ini. Dengan demikian, pasar saham domestik masih menghadapi tantangan untuk menemukan momentum positif yang berkelanjutan, diiringi dengan selektivitas investor dalam memilih sektor-seektor yang dianggap resilient.
