Faktual News – Pasar modal Indonesia kembali diwarnai sentimen negatif pada penutupan perdagangan Jumat, 27 Maret 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok ke zona merah, mengakhiri sesi di level 7.097,05. Angka ini mencerminkan pelemahan 0,94 persen dari posisi sebelumnya di 7.164,09, menandai hari yang kurang menggembirakan bagi para investor.
Tren pelemahan ini tidak hanya menimpa IHSG sebagai indeks acuan utama. Hampir seluruh indeks domestik lainnya juga tak mampu menahan tekanan jual yang masif. Indeks IDX30 anjlok 1,88 persen menjadi 390,96, diikuti Sri-Kehati yang terkoreksi 1,79 persen ke 346,30. Sementara itu, LQ45, yang berisi saham-saham paling likuid, turun 1,74 persen menuju 718,96, dan Jakarta Islamic Index (JII) terpangkas 1,30 persen ke level 471,88.
Sektor perbankan, yang kerap menjadi tulang punggung pasar dan barometer kesehatan ekonomi, juga tak luput dari koreksi. Indeks Faktual.News Perbankan, sebuah tolok ukur yang memantau kinerja 15 saham bank dengan fundamental solid dan likuiditas tinggi, mencatat penurunan 1,87 persen. Indeks ini kini berada di posisi 925,68, menunjukkan tekanan yang cukup berarti pada saham-saham bank pilihan.
Penurunan Indeks Faktual.News Perbankan ini tak lepas dari performa mayoritas saham bank yang menjadi konstituennya. Sebagian besar saham perbankan menunjukkan pergerakan negatif, menambah daftar panjang saham yang tertekan di tengah sentimen pasar yang lesu.
Namun, di tengah gempuran sentimen negatif yang melanda pasar, beberapa saham perbankan mampu menunjukkan ketahanan dan bahkan mencetak keuntungan. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) berhasil mencatat kenaikan 0,95 persen, menutup perdagangan di harga Rp2.130. Senada, PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) juga menguat tipis 0,48 persen, mencapai level Rp1.055.
Sementara itu, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) berhasil mempertahankan posisinya, ditutup stagnan di level Rp820. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun pasar perbankan secara umum menghadapi tekanan, masih ada saham-saham yang mampu bertahan atau bahkan mencetak keuntungan, memberikan sedikit harapan di tengah koreksi pasar yang cukup dalam.
