Faktual News – Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini, setelah sempat tertekan hebat akibat keputusan ‘interim freeze’ rebalancing oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI), rupanya belum sepenuhnya melegakan. PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyoroti bahwa pergerakan positif tersebut masih dibayangi oleh sejumlah keraguan, mengindikasikan bahwa pemulihan kepercayaan terhadap transparansi dan kredibilitas pasar saham Indonesia belum sepenuhnya pulih.
Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, dengan lugas menyatakan bahwa penguatan yang terjadi belum menunjukkan tanda-tanda keberlanjutan. Indikasi paling nyata adalah berlanjutnya aksi jual bersih (net outflow) oleh investor asing, yang tercatat mencapai Rp2,02 triliun pada perdagangan 13 Februari 2026. Aksi jual ini, menurut Rully, terutama menyasar saham-saham berkapitalisasi jumbo seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang kerap menjadi barometer pasar.

"Untuk saat ini, kami belum melihat tanda-tanda penguatan yang berkelanjutan, meskipun regulator dan bursa telah mengeluarkan sejumlah kebijakan guna memperbaiki persepsi, kredibilitas, serta tingkat investabilitas pasar," kata Rully dalam keterangan resmi yang diterima pada Senin, 16 Februari 2026. Ia menambahkan bahwa sebelum MSCI mengeluarkan keputusan final terkait status pasar saham Indonesia, risiko volatilitas IHSG diprediksi masih sangat tinggi, diiringi potensi tekanan jual yang terus berlanjut dari investor global.
Sentimen Global dan Respons Regulator Jadi Penentu Arah Pasar
Prospek pergerakan IHSG ke depan, setidaknya dalam jangka pendek, masih akan diselimuti ketidakpastian. Faktor-faktor penentu meliputi keputusan akhir MSCI, arah arus modal asing, serta dinamika sentimen eksternal seperti prospek pemangkasan suku bunga The Fed dan fluktuasi harga komoditas global.
Namun, secercah harapan tetap ada dari sisi domestik. Peluang penguatan IHSG akan terbuka lebar apabila kebijakan pemerintah dan regulator mampu menegaskan komitmen kuat terhadap peningkatan tata kelola (governance) dan likuiditas pasar. "Stabilitas makroekonomi yang relatif terjaga, inflasi rendah, serta potensi pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia dapat menjadi katalis positif yang signifikan bagi saham-saham berorientasi domestik," imbuh Rully.
Meski demikian, Mirae Asset menilai bahwa investor akan tetap bersikap selektif hingga terdapat kepastian mengenai status Indonesia dalam klasifikasi pasar MSCI, serta kejelasan arah kebijakan moneter global.
Menyikapi situasi ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah bergerak cepat dengan melakukan dua kali pertemuan dengan MSCI. Pada pertemuan pertama tanggal 2 Februari 2026, OJK dan BEI mengajukan tiga proposal krusial. Tiga poin krusial yang diajukan mencakup klasifikasi investor menjadi 28 jenis, perincian data pemegang saham yang tidak lagi terbatas pada kepemilikan di atas 5 persen (keterbukaan ini akan mencakup kepemilikan saham di atas 1 persen), hingga kenaikan free float saham menjadi 15 persen.
Pada pertemuan kedua yang berlangsung 11 Februari 2026, BEI menambahkan usulan penting lainnya, yakni penerbitan shareholders concentration list atau daftar saham yang terindikasi memiliki pemegang saham yang terkonsentrasi. Dengan demikian, masa depan IHSG akan sangat bergantung pada respons pasar terhadap upaya perbaikan ini dan, yang terpenting, keputusan final dari MSCI yang akan menentukan arah kepercayaan investor global terhadap pasar modal Indonesia.

