Faktual News Pasar saham Indonesia kembali menunjukkan performa kurang menggembirakan. Pagi ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di angka 6.951,88, merosot 0,24 persen atau 16,76 poin dari penutupan perdagangan sebelumnya di level 6.968,64. Aktivitas perdagangan terbilang cukup ramai dengan volume transaksi mencapai Rp274,81 miliar dari 372,47 juta saham yang diperdagangkan melalui 30 ribu kali transaksi. Meski demikian, sentimen pasar masih tampak negatif, tercermin dari jumlah saham yang terkoreksi (170 saham) melebihi saham yang menguat (121 saham). 237 saham lainnya stagnan.
Analis dari Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, memprediksi pergerakan IHSG hari ini akan bergerak variatif di kisaran 6.877 hingga 7.020. Ia menunjuk beberapa faktor sebagai penyebab pelemahan IHSG. Koreksi signifikan selama dua hari berturut-turut, meninggalkan level psikologis 7.000, menjadi salah satu faktor utama. Aliran dana asing yang kembali keluar (outflow) sebesar Rp1,25 triliun pada perdagangan kemarin juga turut menekan IHSG. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Iran dan Israel, yang memanas sejak 13 Juni lalu, semakin memperburuk sentimen investor.

Situasi ini diperparah oleh pelemahan bursa saham di kawasan Asia Pasifik. Indeks Hang Seng anjlok 1,99 persen, sementara Nikkei 225 tergerus 1,02 persen. Aksi profit taking oleh investor asing, terutama di sektor perbankan, turut berkontribusi pada penurunan ini. Kondisi likuiditas yang terbatas, ditandai dengan pertumbuhan kredit yang melambat (8,43 persen yoy di Mei 2025, dibandingkan 8,88 persen yoy di bulan sebelumnya) dan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang juga melambat (4,29 persen yoy di Mei 2025, dibandingkan 4,55 persen yoy di April 2025), menambah tekanan pada pasar.
Di sisi global, Wall Street tutup karena libur nasional (Juneteenth National Independence Day), sementara Bank Sentral Inggris mempertahankan suku bunga di level 4,2 persen sesuai ekspektasi pasar. Sementara itu, bursa Asia Pasifik menunjukkan pergerakan yang beragam hari ini, dengan Nikkei 225 mengalami kenaikan intraday 0,37 persen setelah inflasi tahunan Jepang di Mei 2025 melambat menjadi 3,5 persen dari 3,6 persen di bulan sebelumnya. Perkembangan ini perlu dipantau lebih lanjut untuk melihat dampaknya terhadap IHSG ke depannya.
