Faktual News Pasar saham Indonesia kembali mencatatkan kinerja buruk. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok tajam pada perdagangan 19 Juni 2025, meninggalkan level psikologis 7.000. Penurunan mencapai 1,96 persen, menutup perdagangan di angka 6.968,63 setelah dibuka di 7.107,78. Data RTI Business menunjukan 571 saham terkoreksi, berbanding 92 saham yang menguat dan 139 saham stagnan. Nilai transaksi harian mencapai Rp13,96 triliun dengan volume perdagangan 24,90 miliar saham dan frekuensi 1,45 juta kali.
Analis dari Pilarmas Investindo Sekuritas menilai, kejutan ini dipicu oleh sikap wait and see investor menanggapi keputusan terbaru Federal Reserve Amerika Serikat (AS). Sentimen negatif diperparah oleh revisi proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS ke bawah untuk tahun 2025 dan 2026, dibarengi ekspektasi inflasi yang meningkat. Situasi geopolitik Timur Tengah yang memanas, serta kekhawatiran keterlibatan AS dalam konflik Israel-Iran, semakin menambah tekanan.

Akibatnya, hampir seluruh sektor perdagangan berakhir di zona merah. Indeks-indeks utama juga kompak melemah. IDX30 turun 2,52 persen ke 401,63, Sri-Kehati anjlok 2,46 persen ke 355,98, LQ45 merosot 2,26 persen ke 774,81, dan JII turun 2,44 persen ke 490,98. Sektor transportasi bahkan ambruk 3,84 persen, disusul sektor bahan baku (-3,76 persen), teknologi (-2 persen), energi (-1,78 persen), non-siklikal (-1,67 persen), dan properti (-1,65 persen). Sektor keuangan, industri, kesehatan, siklikal, dan infrastruktur juga mengalami penurunan signifikan, masing-masing di kisaran 1,44 persen hingga 1,67 persen.
Di tengah merahnya bursa, beberapa saham masih menunjukan performa positif. Bali Towerindo Sentra (BALI), Energi Mega Persada (ENRG), dan Bank Permata (BNLI) tercatat sebagai top gainers. Sebaliknya, Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS), M Cash Integrasi (MCAS), dan Wijaya Karya Beton (WTON) menjadi top losers. Saham Bumi Resources (BUMI), Bumi Resources Minerals (BRMS), dan Energi Mega Persada (ENRG) tercatat sebagai saham yang paling aktif diperdagangkan. Peristiwa ini tentu menjadi perhatian bagi investor dan pelaku pasar modal dalam negeri.
