Faktual.news – Pasar modal Indonesia bersiap menyambut gelombang baru emiten dari sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 23 perusahaan skala menengah yang tengah dipersiapkan untuk melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada tahun depan.
Langkah strategis ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan BEI dalam memperluas akses pendanaan bagi pelaku usaha lokal. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, menjelaskan bahwa ke-23 UKM tersebut saat ini sedang menjalani program pendampingan intensif atau coaching clinic. Program ini merupakan kolaborasi sinergis antara BEI dengan Kementerian UMKM guna memastikan para pelaku usaha memiliki kesiapan mental dan administratif sebelum melangkah ke pasar modal.

Menurut Saidu, mayoritas dari perusahaan yang sedang didampingi ini menunjukkan progres yang sangat positif. Ia memproyeksikan hampir seluruhnya akan siap melantai di bursa pada tahun depan. Meski demikian, ia menekankan bahwa keputusan akhir untuk melakukan IPO sepenuhnya merupakan hak prerogatif dari masing-masing perusahaan.
"Ada 23 perusahaan dan rasanya hampir seluruhnya tahun depan sudah siap, tapi perlu diingat bahwa IPO itu adalah pilihan bagi perusahaan," ujar Saidu saat memberikan keterangan di Gedung BEI, Jakarta Selatan.
BEI menegaskan bahwa fokus utama mereka bukan sekadar menambah jumlah emiten, melainkan menjaga kualitas perusahaan yang tercatat. Hal ini dilakukan untuk menjaga kepercayaan investor publik. Perusahaan yang memutuskan untuk melantai di bursa tidak hanya harus siap saat proses IPO, tetapi juga harus memiliki tata kelola yang baik untuk memenuhi kewajiban transparansi dan tanggung jawab kepada pemegang saham publik di masa mendatang.
"Kami memiliki aturan pencatatan yang ketat dan harus dipenuhi. Kami ingin meningkatkan kualitas perusahaan yang tercatat di Indonesia. Jadi, perusahaan tidak hanya siap sebelum IPO, tetapi juga harus siap menanggung segala kewajiban setelah resmi menjadi perusahaan publik," tambah Saidu.
Berdasarkan data yang dihimpun, ke-23 UKM yang sedang dipersiapkan ini memiliki skala aset yang cukup signifikan, yakni berada di rentang Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Dari sisi komposisi sektor usaha, industri makanan dan minuman (food and beverage) mendominasi dengan persentase sebesar 30 persen. Selanjutnya, sektor fesyen menyumbang 20 persen, sementara sisanya tersebar di berbagai sektor industri lainnya.
Kehadiran emiten dari sektor UKM ini diharapkan dapat memperkuat struktur pasar modal Indonesia yang selama ini didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar. Dengan masuknya perusahaan menengah, likuiditas pasar diharapkan semakin meningkat dan memberikan pilihan investasi yang lebih variatif bagi masyarakat luas.


