Faktual.news – Dunia kerja saat ini tengah menghadapi tantangan yang tidak mudah bagi para pencari kerja, bahkan bagi mereka yang sudah memiliki rekam jejak profesional yang mumpuni. Fenomena ini dialami langsung oleh Firas Subiro, seorang pria berusia 34 tahun yang sebelumnya menjabat sebagai supervisor. Meski memiliki keahlian manajerial dan kemampuan pengelolaan proyek yang matang, Firas mengaku kesulitan menemukan posisi yang selaras dengan kompetensinya.
Dalam sebuah kesempatan di acara bursa kerja (job fair) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Firas berbagi keresahannya mengenai ketatnya persaingan dan terbatasnya opsi pekerjaan yang tersedia. Ia merasa bahwa mencari posisi yang sesuai dengan pengalaman kerja sebelumnya memerlukan perjuangan ekstra di tengah kondisi pasar tenaga kerja yang dinamis saat ini.

"Sebenarnya saya tidak menuntut pekerjaan yang muluk-muluk. Saya sadar bahwa pilihan yang ada saat ini cukup terbatas karena situasi yang sedang berkembang. Fokus saya saat ini adalah mencoba melamar posisi yang memang sesuai dengan keterampilan yang saya miliki," ungkap Firas kepada awak media.
Firas menjelaskan bahwa masa pencarian kerjanya baru berjalan sekitar satu pekan setelah kontrak kerja di perusahaan sebelumnya berakhir. Walaupun tergolong baru, ia sudah merasakan betapa sulitnya menyaring lowongan yang benar-benar membutuhkan keahlian tingkat supervisor atau manajerial. Namun, pria ini tetap menunjukkan sikap optimis. Ia berharap bisa kembali mendapatkan posisi di level yang sama atau bahkan naik ke jenjang yang lebih tinggi.
Meski demikian, Firas juga menunjukkan sikap realistis. Ia tidak menutup kemungkinan untuk mengambil posisi yang lebih rendah demi memulai kembali kariernya di lingkungan yang baru. Menurutnya, dalam meniti tangga karier, terkadang seseorang memang harus bersedia memulai kembali dari bawah untuk membangun fondasi yang kuat.
Sambil menunggu panggilan kerja impian, Firas tidak tinggal diam. Sebagai tulang punggung keluarga, ia memilih untuk tetap produktif dengan menjalankan berbagai usaha sampingan. Ia mengelola sebuah kafe dan juga aktif bekerja sebagai pengemudi transportasi daring. Menariknya, kebiasaan bekerja sampingan ini sudah ia jalani sejak masa kuliah hingga saat ia menjabat sebagai supervisor.
Selain masalah ketersediaan lowongan, Firas juga menyoroti isu sensitif dalam dunia rekrutmen, yakni batasan usia. Ia menilai bahwa syarat usia maksimal dalam lowongan kerja seringkali tidak relevan dengan kualitas kerja yang ditawarkan. Menurutnya, perusahaan seharusnya lebih mengedepankan integritas, keterampilan teknis, dan pengalaman nyata dibandingkan sekadar angka pada usia kandidat.
"Menurut pandangan saya, batasan umur itu kurang relevan. Saat saya dulu melakukan proses perekrutan, kami tidak melihat usia sebagai parameter utama. Kami lebih fokus pada integritas, kemampuan (skill), dan pengalaman yang dibawa oleh kandidat tersebut," pungkasnya.


