Faktual.news – Kondisi pasar modal domestik yang tengah mengalami tekanan hingga menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot, ternyata tidak menyurutkan nyali Danantara Indonesia untuk tetap melirik peluang. Alih-alih menarik diri, lembaga pengelola investasi ini justru bersiap melakukan ekspansi strategis dengan memanfaatkan momentum penurunan harga saham di pasar.
Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management, Rani Piputri, mengungkapkan bahwa keputusan untuk masuk ke pasar saat kondisi sedang tidak menentu bukan didasari oleh keinginan untuk melakukan intervensi pasar. Sebaliknya, langkah ini murni merupakan strategi investasi berbasis valuasi yang matang. Menurutnya, ketika pasar sedang dilanda sentimen negatif yang bersifat sementara, di situlah letak peluang emas untuk mendapatkan aset berkualitas dengan harga yang jauh lebih murah.

"Jika terjadi krisis di pasar dan kami merasa hal itu hanya didasarkan pada sentimen eksternal yang sifatnya sangat sementara, maka kami mungkin akan masuk ke pasar," tegas Rani dalam keterangannya. Ia menambahkan bahwa strategi ini sangat menguntungkan; mereka membeli saat pasar sedang tidak disukai, dan berencana menjual kembali saat minat pasar telah kembali pulih.
Ketegangan di pasar modal saat ini juga dipicu oleh kekhawatiran investor terkait potensi perubahan status pasar Indonesia oleh penyedia indeks MSCI. Jika Indonesia turun kelas dari emerging market menjadi frontier market pada bulan depan, aksi jual besar-besaran dikhawatirkan akan terjadi. Namun, Danantara menegaskan bahwa mereka akan melakukan uji tuntas (due diligence) yang sangat ketat sebelum mengambil langkah lebih lanjut dalam menghadapi skenario tersebut.
Terkait kekuatan modal, unit investasi publik Danantara telah menanamkan dana sekitar US$3 miliar. Tak berhenti di situ, mereka juga berencana menyuntikkan tambahan modal sebesar US$1 miliar hingga penghujung tahun ini. Portofolio Danantara saat ini didominasi oleh instrumen saham sebesar 65 persen, diikuti pendapatan tetap 30 persen, dan hedge fund sebesar 5 persen, dengan seperempat dari total dana difokuskan khusus pada pasar dalam negeri.
Selain instrumen konvensional, Danantara juga mulai melirik sektor teknologi masa depan, yakni kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Meski mengakui sedikit terlambat masuk ke sektor ini, Rani menyatakan bahwa mereka tidak melihat tren AI sebagai gelembung spekulatif yang akan pecah. Danantara akan menerapkan pendekatan yang sangat terukur dan hati-hati guna memitigasi risiko investasi di sektor teknologi tersebut.
Di sisi lain, Managing Director Global Relations & Communications Danantara Indonesia, Pahala Mansury, menjelaskan bahwa target imbal hasil yang dibidik adalah 200 hingga 300 basis poin di atas biaya modal. Terkait dana dividen sebesar Rp120 triliun yang direncanakan untuk pemerintah, Danantara saat ini masih dalam tahap diskusi dengan Kementerian Keuangan. Ada kemungkinan dana tersebut akan dikelola kembali oleh lembaga untuk memperkuat posisi investasi mereka, sembari tetap memastikan bahwa setiap langkah yang diambil tidak dianggap sebagai intervensi pasar oleh investor asing, melainkan sebagai upaya pendalaman pasar keuangan yang sehat.


