Faktual.news – Indonesia tengah berada di ambang transformasi ekonomi besar melalui pengembangan sektor energi terbarukan. Kebutuhan investasi untuk mendukung transisi energi hijau di tanah air diprediksi akan mencapai angka yang sangat fantastis, yakni berkisar antara US$45 miliar hingga US$60 miliar. Jika dikonversi ke dalam mata uang rupiah, nilai tersebut setara dengan Rp804,9 triliun hingga menembus Rp1.073 triliun.
Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero), Yudistian Yunis, mengungkapkan bahwa suntikan modal besar ini tidak hanya akan memperbaiki infrastruktur energi, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi nasional. Ia memproyeksikan bahwa investasi hijau ini berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dengan estimasi tambahan hingga 6 persen.

Menurut Yudistian, kebutuhan investasi yang masif ini mencakup dua pilar utama, yaitu sisi penyediaan energi terbarukan itu sendiri serta pengembangan industri yang membutuhkan pasokan energi bersih. "Jika kita proyeksikan, tambahan investasi hijau yang dibutuhkan mencakup sisi penyediaan energi dan sisi industrinya. Harapannya, ini bisa menambah potensi PDB nasional sekitar 6 persen," ujar Yudistian dalam sebuah pertemuan media baru-baru ini.
Potensi pertumbuhan ini akan lahir dari terbentuknya ekosistem industri hijau yang komprehensif. Sektor-sektor strategis seperti manufaktur ekspor, industri tekstil, produksi kendaraan listrik, pusat data (data center), hingga pengolahan mineral akan menjadi konsumen utama energi bersih. Yudistian bahkan memperkirakan bahwa permintaan listrik untuk industri hijau akan melonjak tajam sebesar 3,5 hingga 5,3 kali lipat pada periode 2026-2034, asalkan pasokan energi terbarukan dapat terintegrasi dengan baik ke sektor-sektor tersebut.
Untuk memenuhi kebutuhan pendanaan ekspansi yang besar, Geo Dipa Energi tengah menyiapkan strategi pembiayaan kreatif. Salah satu langkah yang sedang digodok adalah penerbitan obligasi atau bond. Strategi ini dipilih agar perusahaan tetap memiliki kendali penuh atas pengelolaan bisnis tanpa harus mengubah struktur kepemilikan, berbeda dengan skema penawaran umum perdana saham atau IPO.
"Kami sedang menyiapkan kajian untuk tahun depan mengenai kapan dan berapa nilai obligasi yang akan dilepas. Ini akan menjadi salah satu sumber pendanaan ekuitas kami," tambahnya. Sebelumnya, Geo Dipa juga telah menerima Penyertaan Modal Negara (PMN) dari APBN sebesar Rp1,3 triliun yang digunakan sebagai pendamping pinjaman dari bank pembangunan untuk proyek-proyek konstruksi yang sedang berjalan.
Namun, perjalanan menuju kemandirian energi hijau bukan tanpa hambatan. Yudistian menyoroti tingginya komponen fiskal yang masih menjadi tantangan dalam pengembangan energi terbarukan, khususnya panas bumi. Ia menjelaskan bahwa sekitar 40 persen dari nilai transaksi penjualan listrik panas bumi ke PLN akan kembali ke pemerintah dalam bentuk berbagai pajak dan retribusi, seperti PNBP, PBB tubuh bumi, hingga bonus produksi.
Kondisi ini membuat harga listrik hijau seringkali sulit bersaing di pasar. Oleh karena itu, Geo Dipa saat ini tengah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk membahas penyesuaian kerangka fiskal. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan harga listrik hijau yang lebih kompetitif, sehingga industri di Indonesia semakin tertarik untuk beralih ke energi bersih.


