Faktual.news – Transformasi besar-besaran yang dilakukan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo pascamerger mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Dalam kurun waktu lima tahun sejak integrasi dilakukan, produktivitas pengelolaan terminal peti kemas dilaporkan melonjak drastis hingga lebih dari 70 persen. Pencapaian ini menjadi angin segar bagi dunia logistik nasional, mengingat efisiensi pelabuhan merupakan kunci utama dalam menekan biaya distribusi barang di Indonesia.
Langkah strategis yang diambil Pelindo berfokus pada tiga pilar utama: standardisasi layanan, peningkatan efisiensi operasional, serta penguatan kapasitas dan kualitas pelayanan. Melalui integrasi ini, Pelindo berhasil menciptakan sistem yang lebih teratur, mulai dari penyamaan proses bisnis hingga peningkatan kompetensi sumber daya manusia di seluruh terminal yang dikelola.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengungkapkan bahwa peningkatan produktivitas ini memberikan dampak langsung bagi para pelanggan. "Alhamdulillah, produktivitas meningkat lebih dari 70 persen. Dengan meningkatnya produktivitas, pelanggan mendapatkan nilai yang lebih baik. Waktu singgah kapal (port stay) juga jauh berkurang sehingga mereka menjadi lebih efisien," ujar Widyaswendra pada Rabu (30/9).
Salah satu kunci keberhasilan transformasi ini adalah kemampuan perusahaan dalam melakukan optimalisasi peralatan. Dengan sistem manajemen yang terintegrasi, Pelindo kini dapat mengalihkan peralatan dari terminal yang memiliki kelebihan alat ke terminal lain yang sangat membutuhkan. Hal ini secara efektif memangkas waktu tunggu kapal (port stay) dan waktu tunggu barang (cargo stay) di pelabuhan.
Dampak positif ini tidak hanya dirasakan oleh pengelola, tetapi juga oleh para pelaku industri pelayaran. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners’ Association (INSA), Carmelita Hartoto, menyatakan bahwa perusahaan pelayaran telah merasakan perbaikan layanan secara nyata di berbagai wilayah. Menurutnya, perbaikan layanan terminal sangat krusial karena berkaitan langsung dengan produktivitas kapal.
"Kami berharap perbaikan dan penggantian peralatan bongkar muat dapat terus dilakukan agar port stay semakin baik. Kami membutuhkan pelayanan yang bisa mendukung produktivitas dan memberikan kepastian operasional kapal," kata Carmelita. Ia juga menambahkan bahwa di tengah tekanan pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya operasional kapal, efisiensi pelabuhan menjadi faktor penentu daya saing industri.
Namun, tantangan besar masih menanti di depan mata. Pengamat supply chain dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Raja Oloan Saut Gurning, memberikan catatan penting terkait konsistensi layanan. Meskipun standardisasi sistem operasi atau Terminal Operating System (TOS) sudah berjalan baik, kualitas layanan di lapangan belum sepenuhnya homogen secara nasional.
Saut menjelaskan bahwa perbedaan kondisi geografis, seperti wilayah sungai pasang-surut yang berbeda dengan pelabuhan laut dalam, membuat kinerja terminal tidak bisa disamakan secara mutlak. Selain itu, kesenjangan spesifikasi peralatan bongkar muat antarwilayah juga menjadi faktor yang memengaruhi output produktivitas.
"Standardisasi layanan sudah berada di jalur yang tepat, namun tantangan berikutnya adalah memastikan standardisasi tersebut menghasilkan kualitas layanan yang konsisten di lapangan, terutama di luar Pulau Jawa," pungkas Saut. Dengan terus berbenah, Pelindo diharapkan mampu memperkuat ekosistem maritim nasional dan secara berkelanjutan menurunkan biaya logistik nasional.


