Faktual.news – Sektor pasar modal Indonesia menunjukkan performa yang sangat menjanjikan sepanjang tahun ini. Berdasarkan data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pasar modal berhasil mengumpulkan dana segar hingga mencapai angka Rp169,5 triliun. Capaian ini merupakan hasil dari 148 emisi yang telah berhasil dilaksanakan hingga periode September 2024.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa angka tersebut menjadi bukti nyata bahwa pasar modal tetap menjadi instrumen pilihan utama bagi korporasi untuk mencari sumber pendanaan. Kepercayaan perusahaan terhadap mekanisme pasar modal terlihat dari besarnya dana yang berhasil dihimpun dalam waktu relatif singkat.

Menariknya, tren penggalangan dana ini diprediksi tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Hasan menjelaskan bahwa saat ini masih terdapat sejumlah perusahaan yang tengah bersiap untuk melantai di bursa. "Di dalam pipeline, baik di OJK maupun di Bursa Efek Indonesia (BEI), masih ada antrean permintaan fundraising yang mencapai Rp27,61 triliun," jelas Hasan saat memberikan keterangan di Gedung BEI, Jakarta Selatan.
Selain dari sisi emiten, geliat pasar modal juga didorong oleh lonjakan drastis dari sisi investor. Meski kondisi ekonomi global penuh dengan dinamika dan tekanan, minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal justru menunjukkan tren positif yang sangat signifikan. Pertumbuhan investor ritel domestik menjadi motor penggerak utama dalam fenomena ini.
Data OJK menunjukkan lonjakan jumlah investor yang sangat impresif. Jika pada akhir tahun lalu jumlah investor baru menyentuh angka 20 juta, kini jumlah Single Investor Identification (SID) telah melesat hingga mencapai 32,17 juta. Artinya, dalam kurun waktu satu tahun, terdapat penambahan lebih dari 12 juta investor baru. Secara persentase, kenaikan ini mencapai angka 57,96 persen, sebuah pertumbuhan yang sangat kuat sebelum tahun ini berakhir.
Tak hanya pada pasar saham konvensional, OJK juga mencatat perkembangan positif pada sektor keuangan derivatif. Hingga saat ini, sebanyak 113 pihak telah mendapatkan persetujuan prinsip untuk beroperasi di sektor tersebut, dengan volume transaksi yang menyentuh angka 379.443 lot.
Sektor masa depan, yakni bursa karbon, juga menunjukkan eksistensinya. Tercatat sudah ada 160 pengguna jasa yang terdaftar dalam bursa karbon. Volume transaksi di sektor ini telah mencapai 1,98 juta ton CO2 ekuivalen dengan akumulasi nilai transaksi sebesar Rp93,97 miliar. Hasan menegaskan bahwa OJK terus berkomitmen menjaga stabilitas dan menyediakan sarana yang memadai, baik di sektor derivatif maupun bursa karbon, agar aktivitas pasar tetap terjaga dengan baik.


